Etiquetas

Kutemukan Cermin Yang Lebih Besar
11:00 PM | Author: Mr.Xu
Ketika masa yang menjadi bagian dari perjalanan relatifku telah mengantarkan ku pada sebuah wilayah dimana dihadapanku terbentang sebuah danau, "ya menurutku hanya sebuah danau bukan laut", karena aku masih melihat di ujung ufuk pandangan mataku masih terlihat gunung yang menjulang tinggi biru kehitaman. Lalu aku melihat di kiri dan kananku tepian daratan yang memanjang dan semakin menjauh ditelan kaki-kaki keperkasaan sang biru kehitaman. Itu bukan laut, karena jika laut garis horizon tidak sepekat seperti yang kulihat saat ini. Karena jika laut, aku akan melihat hamparannya seakan tidak akan pernah bertepi.

Aku masih berharap bukan laut yang sedang aku jumpai, karena aku masih merasa belum banyak bekal yang sudah aku kumpulkan. Aku berharap ini bukan laut, karena masih banyak debu bercampur keringat yang belum aku bersihkan serta luka-luka menganga sisa perjalananku di masa lalu yang masih juga belum sempat mengering. Tetapi aku hanyalah hamba yang tidak pantas dan mampu untuk berkehendak mutlak. Manalah mungkin aku dapat memastikan apa yang aku lihat bukan sebuah fatamorgana, atau seandainya ternyata danau yang aku lihat hanyalah sebuah teluk tenang yang bertepi ke sebuah samudra yang bergejolak. Tetapi apapun citra yang telah aku tangkap, yang terpenting bagiku adalah mempersiapkan segala sesuatunya.

Selayaknyalah aku bergembira jika masih sempat berjumpa dengan sebuah danau yang tenang, yang airnya terlihat jernih keemasan dikala senja, dan serupa kaca dikala pagi. Bagaimana mungkin aku tidak bersuka, setelah sebelas masa menempuh hutan yang terasa menyiksa. Hutan yang tersa semakin lebat, dimana banyak semak yang menjalar-jalar di hamparan tanah, yang selalu berusaha melilit setiap langkah-langkah kaki, yang membuatku semakin terseok-seok. Belum lagi semak berduri yang selalu menambah luka di sekujur tubuhku, atau semak-semak lembab yang menempelkan lintah-lintah kurus di lengan dan punggungku. Inilah saatnya, dimana aku bisa membersihkan diri, mensucikan tubuh dari keringat dan debu, men-steril-kan luka-luka yang sempat tercipta. Inilah masanya dimana jiwaku yang kehausan bisa merasakan kesegaran yang melepas dahaga.

Sepantasnyalah di awal perjalananku menyebrangi danau, aku sempatkan untuk tunduk bersujud, membenamkan dalam-dalam seluruh keangkuhan di kepalaku kedalam hamparan tanah kelemahan dan ketakberdayaan. Agar aku dapat merasakan ke-Maha-Tinggi-an Sang Penguasa Kehidupan. Agar tubuh lelahku terasa lebih ringan, serta jiwa gersangku dapat berselimutkan embun-embun ketenangan.

Aku meluncur dipermukaan danau dengan kesunyian, berusaha menginggalkan riak-riak air yang tidak terlalu besar. Inilah suatu episode, dimana aku harus selalu bercermin di sepanjang perjalanan, memeriksa diri dari segala kotoran yang masih melekat lalu bersegera untuk dibersihkan. Bukankah aku sedang berada pada limpahan air danau yang mensucikan ? Aku harus benar-benar memanfaatkan penggalan perjalanan ini dan menjadikannya sebuah mozaik cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Siapa yang tahu, jika danau ini adalah danau terakhir yang pernah aku jumpai. Bahkan dalam setiap jengkal lintasan yang aku lalui, aku harus benar-benar memanfatkan sebaik-baiknya, karena siapa pula yang mampu memastikan jika aku sanggup sampai ke tepian.

Anggap saja danau ini sebuah cermin besar yang airnya mampu memantulkan setiap detil-detil kehidupan. Yang catatan-cataannya terekam dalam setiap guratan-guratan wajah, yang terlihat semakin merenta. Inilah saatnya dimana aku berkesempatan memandangi wajahku secara lebih seksama, menelusuri setiap lekuk-lekuknya, mencoba memeriksa apakah masih ada noda yang masih tersisa. Sesekali aku mencoba memandang ke belakang menelusuri riak-riak yang telah aku lepaskan, lalu lebih jauh lagi, hingga tepi daratan yang baru saja aku tinggalkan. Tiba-tiba di balik rerimbunan pohon tersembunyi sebuah papan pengumuman dengan tulisan besar yang bertuliskan " Anda telah memasuki danau keberkahan - R.A.M.A.D.H.A.N - "

MARHABAN YA RAMADHAN .........
Inilah bulan yang bergelimang keberkahan, dimana semua catatan perhitungan dilipatgandakan. Inilah bulan tempat jiwa-jiwa orang beriman akan dibersihkan dari sifat angkuh dan ke-aku-an yang berlebihan. Selamat menunaikan Ibadah Puasa.
Simponi Rayuan Sang Mahameru
7:09 PM | Author: Mr.Xu

mendung Langit itu biru legam, wajahnya pucat , tak ada semburatpun cahaya yang berkenan menghampiri. Di ujung sana, dijauhnya kehijauan, sang gunung berdiri gagah dengan keangkuhannya yang santun tetapi tetap bergelora. Di tengah-tengah selimut kabut, dia seakan-akan tersenyum, ingin menghibur hati sang langit yang sedang bersedih.

“ Mengapa engkau masih bersedih wahai sang pengayom alam. Bukankah seluruh air matamu sudah seluruhnya engkau curahkan. Sekarang biarkanlah sang matahari mengantikan tugasmu menguasai penjuru pertiwi. Biarlah bumi melihatmu tersenyum kembali “.

“ Wahai sang bayu penyejuk hati, ajaklah mendung bersamamu pergi berlari, agar tak lagi dia mewarnai suasana sedih. Wahai sang angin pelipur lara, panggillah bidadari awan putihmu bertukar diri, mengantikan guratan perih menjadi bahagia yang merah merona. Bentangkanlah senyum berwarna sang bianglala diujung-ujung wajah langit diantara sisa-sia air mata. Wahai sang langit aku merindukan birumu yang indah mempesona “.

“ Lihatlah di bawah sana, air matamu pun tak sia-sia. Bulir-bulir tetesnya mampu menghijaukan berjuta-juta tanaman yang terhampar luas sejauh pandangan mata. Memberi kehidupan dan suburnya pengharapan seluruh semesta”. banjir

“ Wahai sang langit tiada guna engkau tumpahkan lagi air mata itu, karena seluruh keindahan itu akan musnah dan berganti dengan bencana. Ingatkah engkau minggu lalu, ketika seharian penuh engkau menangis, air matamu telah menghanyutkan seluruh impian manusia. Janganlah biarkan kehidupan di bawah sana terhenti karena tidak ada lagi mimpi-mimpi yang mereka miliki “.

“ Di bumi sana, air matamu adalah sumber bagi bersemimya benih-benih mata air. Air matamu telah menciptakan garis-garis indah lukisan yang meliuk-liuk mengiringi sungai-sungai. Sungai-sungai yang airnya kadang-kadang terhenti membentuk danau-danau pengharapan yang permukaan airnya berkilau-kilau memantulkan terpaan sang mentari. Aku merindukan itu semua, merindukan keramahanmu wahai sang langit pujaan hati “.

“ Wahai sang langit, seandainyapun engkau tak mungkin lagi mencintaiku, tetapi biarkanlah aku tetap menjadi sahabatmu. Jangan biarkan bagian-bagian tubuhku meluruh, terhanyut oleh air matamu. Aku tetap ingin berdiri, menyaksikan indahnya parasmu saat engkau merasa senang, atau menghiburmu di saat hatimu sedang tidak berkenan. Aku ingin keberadaanku masih tetap ada, agar dapat menyaksikan burung-burung bermigrasi di bawah naungan atap birumu. Aku ingin tetap selalu berdiri melihat lucunya tingkah polah sang bayu yang menerpa-nerpa wajahmu, meskipun itu kadang-kadang membuatmu sedih, tetapi sering kali pula dia mampu menjadikanmu tetap berseri “.cerah

Langit pun seolah mendengar. Wajahnya mulai bercahaya, senyum pelanginya pun tersebar dimana-mana. Bujukan sang mahameru nampaknya sudah membuahkan hasilnya. Semoga saja keceriaan yang mulai tercipta di dunia yang mulai renta ini, bukan sebuah fatamorgana. Semoga….

Penguasa Malam yang Mendendam
7:59 PM | Author: Mr.Xu
Suatu hari di katulistiwa, sang gelap baru saja lari terbirit-birit, dia mulai melihat ada sesuatu yang mengintip dari arah timur sana, sesuatu yang tatapan matanya tidak mungkin mampu dia balas. Sesuatu yang bila dia mulai hadir, mampu menggerakkan seluruh makhluk bumi untuk berani melawannya. Sesuatu itu adalah sang matahari, makhluk yang mampu membangkitkan alam untuk dapat bergerak lebih cepat.

Dalam lubuk hatinya, sebagai penguasa malam, sebenarnya ia merasa terhina, diusir secara serta-merta tanpa mampu untuk menolaknya. Ia pernah mencoba melawannya dengan mengerahkan seluruh pasukan awan hitam bahkan dengan bantuan asap tebal hasil pembakaran hutan-hutan tropis, semuanya sia-sia. Pesona sinar matahari benar-benar tidak mampu ia redam, bahkan matahari justru mampu sedikit demi sedikit mengikis habis keberadaannya. Ia baru mampu hadir kembali tatkala matahari mulai lelah dan kembali ke peraduannya.

Hari ini, telah enam belas kali dalam bulan ini, matahari selalu mengusik keberadaannya. Seperti biasanya, matahari hadir pagi-pagi buta, ajudannya sang lembayung sutra, sudah lebih dulu memberi aba-aba. Di susul saling bersautannya corong-corong pengeras suara di mushola, untuk menguji kesetiaan manusia. Di berbagai sudut desa si ayam pejantan memamerkan suara dan kegagahannya, menebarkan pesona kepada para betina. Alam mulai menggeliat, manusia ada yang baru saja membuka selimutnya, menghirup kopi hangat yang sudah disiapkan disamping pembaringan, ironisnya sebagian yang lain dengan terpaksa harus sudah bersimbah keringat menurunkan beban berat dari atas truk yang bermuatan sarat di pasar-pasar becek yang dipenuhi lumpur pekat sisa hujan semalam. Semuanya mulai bergerak, berserabutan merusak keheningan malam. Sang gelap sekali lagi harus merelakan tahtanya untuk digantikan oleh saingan beratnya, sang matahari, penguasa siang.

Sang penguasa malam hanya bisa memandang dari kejauhan, sisa-sisa pasukannya tercerai- berai di kolong-kolong jembatan, dibawah pohon rindang, di dalam gua-gua persembunyian, di lorong-lorong saluran bawah tanah, dan bahkan ada yang bersembunyi di dalam lemari pakaian dan laci meja makan. Dengan tatapan mata yang mulai berlinang, rasa dendamnya mulai memuncak hingga ke ubun-ubun kepalanya. “Akan ku balas engkau sang penguasa siang”, ia berteriak keras-keras di tengah-tengah kesendirian, meluapkan segala kekesalan sambil mengangkat tangannya yang terkepal. Lalu ia mulai diam kelelahan, terkulai lemas. “Aku harus membalas !” berkali-kali kalimat itu terlontar, keningnya mulai berkerut, ia memikirkan sebuah rencana maut. Terpaksa kali ini, ia harus meminta bantuan kepada sang permaisuri malam. Ia yakin, kecantikan Sang Rembulan akan mampu meluluh-lantakkan kesombongan sang penguasa siang.

Sang penguasa malam dan permaisuri rembulan berjalan mengendap-endap, sambil terus melihat-lihat kekiri dan kekanan, dia mengintip dari balik dinding langit, membuat perhitungan yang masak untuk memilih saat yang tepat. Akhirnya kesempatan itu datang, sang gelap kemudian memberi aba-aba kepada permaisurinya, “sekarang sayang !”. Dengan serta-merta sang rembulan melompat, dipeluknya bumi erat-erat. Punggungnya yang membelakangi matahari mulai terasa panas karena sinar sang penguasa siang, semuanya tidak dia perdulikan. Di bawah sana, terjadi keributan, sebagian manusia berteriak-teriak “Gerhana!, gerhana!,gerhana!” . Tidak beberapa lama kemudian, sang rembulan mulai merasakan sengatan sinar matahari yang menusuk-nusuk punggungnya sudah tidak mampu lagi ia tahan, “Suamiku,.. aku sudah tidak kuat lagi…”. “OK sayang!, cukup! sekarang kita mundur…”. Maka sang rembulanpun melepaskan pelukannya, ia melompat dan berlari ke arah suaminya serta menghilang di sela-sela dinding langit meninggalkan hingar-bingarnya bumi yang sekarang sudah mulai kembali bisa bernafas.

Gerhana

“Maafkan aku permaisuriku, aku telah memanfaatkanmu untuk melampiaskan rasa dendamku” sang penguasa malam berbisik di telinga sang rembulan, lalu dengan perasaan yang mulai lega, ia mencium kening sang permaisuri dan mengucapkan terima kasih.

“Tidak apa-apa sayang, walaupun tubuhku akan meleleh sekalipun aku tidak akan menyesal, asalkan aku masih tetap dapat melihat engkau tersenyum sayang”, benar-benar sebuah pengorbanan yang tulus, yang ditunjukkan sang Rembulan untuk selalu membahagiakan suaminya, sang raja penguasa malam.

Rasa dendam memang seringkali menang, dia mengalahkan akal sehat, mengorbankan segalanya, bahkan miliknya yang paling berharga sekalipun tidak lagi diperdulikan. Rasa dendam adalah anak yang dilahirkan dari rahim kedengkian. Rasa dengki yang lahir dari ketidak mampuan dan mental pecundang. Jika saja sang malam mau berbagi, dia tidak perlu mengorbankan sang permaisuri yang paling ia sayangi.

Sang rembulanpun ikut berperan memupuk kedengkian suaminya, hanya karena rasa cinta yang membabi buta. Kenapa sang dewi malam tidak mau mengingatkan, agar kemarahan sang raja malam dapat diredam. Bukankah kecantikan yang dimilikinya mampu ia pergunakan untuk menghibur lara sekaligus amarah.

(Renungan anak-anak alam)

My Blog List

  • Laughing before it’s illegal - [image: laugh]Don’t be afraid to laugh. Laugh not make you look like a fool or make your authority will go down if you have appropriate reasons. But you ...
    17 years ago
  • TRiMaKaSiH CiNTa - *Dan bila aku berdiri* *Tegar sampai hari ini* *Bukan karena kuat dan hebatku* *Semua karena cinta* *Semua karena cinta* *Tak mampu diriku* *dapat berdiri t...
    17 years ago