Etiquetas

Semua di hari valentine
10:43 PM | Author: Mr.Xu

valentine 1:

Panggil saja dia Herman (bukan nama yang tidak sebenarnya). Dia adalah seorang karyawan sebuah perusahaan pembuat alarm yang biasa digunakan untuk alarm pengaman mobil atau toko-toko perhiasan.  Pada suatu hari dia mendapat keluhan dari sebuah toko perhiasan langganan perusahaannya.

Dia kemudian mendatangi toko itu dan memperbaiki alarm pintu lemari besi tempat menyimpan perhiasan yang sudah beberapa hari ini tidak berfungsi. Sedang asik-asiknya memperbaiki alarm, tiba-tiba seorang penjaga toko yang sedang frustasi karena seharian belum ada yang membeli, menawari Herman dengan sebuah harga spesial.

“Mas, perhiasan ini sangat bagus untuk hadiah valentine pacar anda. Harganya murah diskon 40 % lagi. Dia pasti senang kalau mas memberikan hadiah perhiasan ini untuknya “ rayu sang penjaga toko kepada Herman.

“Wah.. saya nggak punya pacar tuh, mbak “ jawab Herman mengelak.

“Apa ? hari gini nggak punya pacar ?” timpal sang penjaga toko.

Dengan santai Herman menjawab, “ Iya mBak, istri saya tidak mengijinkan saya untuk punya pacar sihhh !”.

 

Valentine2 :

Seorang gadis bernama Bunga menelepon pacarnya seorang keturunan India bernama Rajif.

Bunga : “ Rajif nanti malam kan malam valentine, kita mau jalan kemana ? ”

Rajif : “ Waduh sorry Bunga, sepertinya aku tidak bisa menemanimu untuk menikmati malam valentine bersamamu “

Bunga : “Lho, kamu kenapa ? ”

Rajif : “ Habis setiap kali aku bersamamu, jantungku selalu berdebar kencang sekali…Rasanya aku punya sakit jantung nih..”

Bunga : (dengan rasa bangga dia mengira bahwa itu karena Rajif sangat mencintainya) “Itu kan hal biasa bagi orang yang sedang dimabuk Cinta, memang kenapa jantungmu kok berdebar kencang kalau dekat denganku ? ”

Rajif : “  Ya karena aku takut kalau tiba-tiba istriku memergokiku sedang berduan denganmu…”

Bunga : “ !?!!!..@$#^!”

Password Sang Manajer
10:05 PM | Author: Mr.Xu

Pada suatu hari seorang OB (office boy) sedang membersihkan ruangan seorang Manajer. Setiap sudut ruangan dia bersihkan termasuk juga tempat di belakang kursi sang manajer. Sangkin asiknya bekerja, sang manajer tidak sadar kalau OB tersebut dengan kurang ajar mengintip pekerjaan sang manajer di layar komputernya.

Begitu pula pada saat sang menejer membuka suatu dokumen, dia memasukkan passwordnya. Semuanya diamati oleh sang OB dengan seksama. Setelah keluar dari ruangan itu dia menuju ke dapur dan menceritakan pengalamannya itu kepada teman-temannya sesama OB.

Kebetulan pada saat itu seorang manajer lain, yang menjadi musuh bebuyutan manajer yang pertama tadi, lewat melintasi ruang dapur yang pintunya terbuka. Secara tidak sengaja, manajer tersebut mendengar pembicaraan sang OB bersama teman-temannya tadi. Maka terlintaslah sebuah pemikiran jahat dari sang manajer untuk menyuap sang OB agar bersedia memberikan password yang sudah dihafalnya tersebut supaya dia dapat mengetahui semua dokumen-dokumen rahasia sang manajer saingannya itu.

“ Mas OB, bagaimana kalau password yang kamu ketahui itu saya beli, berapa harganya ? “.

Kening sang OB berkerut, kemudian terlontarlah sebuah angka “Dua ratus ribu !”.

“ Wah kemahalan !, bagaimana kalau seratus ribu saja. “ tawar sang manajer.

“ OK, deal..Pak !”.

Kemudian sang manajer mengeluarkan selembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada sang OB.

“ Nah ! sekarang kamu sudah menerima uang dari saya, sekarang sebutkan password yang kamu ketahui itu ! “ perintah sang manajer sambil mengeluarkan sebuah buku kecil dan sebuah pena dari saku bajunya.

Sang OB kemudian mendekat, dan membisikkan “ Passwordnya sangat sederhana pak, cuma bintang enam kali..”, kata sang OB dengan sangat yakin.

Sang manajer ..!?@#!$?………

Ahli Teknik
10:19 PM | Author: Mr.Xu

Pada suatu hari ada sebuah bis antar kota, mogok di suatu tempat yang sangat jauh dari kota dan perkampungan penduduk. Setelah mencoba beberapa kali memeriksa kendaraannya, bis masih saja tidak mau dihidupkan. Dengan wajah  yang putus asa dan belepotan dengan noda oli sang sopir bertanya kepada penumpang.

“Adakah diantara bapak-bapak atau ibu-ibu yang mengerti teknik ?”.

Akhirnya tampillah dua orang bapak-bapak dan seorang pemuda. Kedua orang bapak-bapak itu adalah seorang Sarjana Elektro dan seorang lagi Sarjana Teknik Kimia, sedangkan seorang pemuda adalah seorang Sarjana Informatika yang baru saja diwisuda dan sedang pulang menuju rumah orang tuanya di kampung.

Sang Sarjana Elektro, kemudian berkata : “ Coba saja di lepas kabel-kabelnya, kemudian diperiksa satu persatu bagian kabel mana yang putus !”. Kemudian dia membantu sang supir memeriksa semua kabel dan sekring mobil. Tetapi tetap saja mobil tidak mau menyala.

Maka tampillah sang Sarjana Kimia, dan dia memberikan saran : “Coba periksa bensinnya, barang kali saja nilai oktan bensinnya menurun ! “. Kemudian dia mengeluarkan dari tasnya beberapa buah tabung rekasi, lalu mengambil sampel bensin dan diperiksanya dengan menambahkan beberapa cairan uji kimia dan akhirnya dia berkesimpulan “Nilai oktannya masih bagus". “Coba dinyalakan lagi mobilnya !”. Tetapi dicoba beberapa kali mobil masih tetap tidak mau menyala.

Maka tampillah Sang Sarjana Informatika yang masih muda. Dengan idelisme yang tinggi kemudian dia menyarankan kepada sang supir “ Coba tutup semua Windows(Jendela), Lalu restart kembali !”. Sang supir pun menuruti kata-kata sang pemuda. Dia meminta pada pemumpang untuk menutup semua kaca jendela disampingnya. Mungkin karena mobil bis tersebut mogok karena kepanasan. Pada saat sang sopir menyalakan kembali bisnya, mesinnya akhirnya mau menyala. Lalu sang pemuda dengan bangganya berkata kembali “Tuh kan ! sebenarnya permasalahannya sangat sederhana. Mungkin karena terlalu banyak Windows (Jendela) yang dibuka pada saat yang bersamaan”.

Unsur Paling Dasar Alam Semesta
2:24 AM | Author: Mr.Xu

 Diantara lingkaran,segitiga sama sisi, bujur sangkar, manakah bentuk geometri yang paling dasar ? Lingkarankah, seperti bentuk-bentuk bumi, bulan, matahari, dan benda-benda ruang angkasa lainnya ? atau segitiga sama sisi bentuk yang paling stabil karena mampu menyebarkan tekanan sama rata ke segala arah? ataukah bujursangkar bentuk dasar yang digunakan sebagai referensi dalam perhitungan luas bidang ? Jika jawaban anda adalah salah satu dari bentuk-bentuk saya sebutkan di atas, maka berarti anda benar, tetapi kurang tepat. Itupun hanya menurut pendapat saya. Para pembaca mungkin mempunyai argumentasi lain yang berbeda-beda.


Menurut saya bentuk yang paling dasar adalah “titik”. 

“Curang ! kenapa tidak dimasukkan ke dalam pilihan ?”. Itulah manusia… kebanyakan dari kita hanya melihat fakta dari sisi-sisi yang terlihat saja. Padahal apa yang terlihat sebenarnya hanyalah asesori belaka. Jika kita perhatikan dari ketiga bentuk yang saya sebutkan di atas, semuanya adalah sama yaitu kumpulan dari titik-titik yang membentuk pola. 

Pola sebagai asesori bisa berbeda-beda tetapi bentuk dasarnya adalah sama, yaitu “titik”.

Seperti halnya kumpulan huruf yang aku tulis membentuk suatu kalimat, dan kumpulan kalimat membentuk suatu paragraf, lalu paragraf-paragraf itu disusun berurut membentuk suatu cerita. Maka sebenarnya apa yang terlihat di layar monitor anda adalah titik-titik cahaya fosfor yang berpendar bergantian di dalam tabung gambar (monitor konvensional) atau titik-titik liquid crystal yang berpendar(pada monitor LCD).

Lalu jika kita semakin menjauh hingga batasan tertentu dari sebuah benda apakah anda akan melihat bentuk-bentuk lingkaran, segitiga sama sisi, atau bujur sangkar ? Tidak ! anda akan melihat semuanya berbentuk “titik”. Jadi pada batasan pandangan yang paling dekat maupun batasan yang terjauh, yang terlihat adalah “titik”.

Tetapi apakah sebuah titik akan tetap terlihat jika dia berada pada ruangan yang gelap gulita ? lagi-lagi jawabannya adalah “tidak!”. Jadi sebenarnya keberadaan “titik” sekalipun baru terlihat apabila titik itu mendapatkan cahaya. Entah darimanapun asalnya cahaya itu, baik dari matahari maupun cahaya dari sumber segala cahaya, yaitu “Cahaya Ilahi”.

Jadi kesimpulannya unsur paling dasar pembentuk alam semesta adalah “TITIK” dan “CAHAYA”.

Next Posted :

  1.  Analogi Air dan Waktu
  2.  SIRKUIT ELEKTRONIK dalam ANALOGI KEHIDUPAN
  3.  Mencari Persamaan dalam Perbedaan
  4.  Kebenaran Relatif atau Analogi Sesat ?


Perjuangan Seorang Ibu
8:00 PM | Author: Mr.Xu

 

18 Maret 2008…… (07:30)

Pagi ini istriku sudah berpesan, “mas,.. nanti kalau ada telepon dari rumah langsung pulang ya.!”. Aku hanya mengangguk sambil memegangi perut istriku yang sudah semakin menggunung. Kulihat mukanya masih saja tersenyum meskipun sekali-kali giginya dirapatkan kuat-kuat karena menahan rasa sakit, dan kalau kebetulan aku berada disebelahnya maka lengankulah yang menjadi sasarannya. Entah sudah berapa banyak bekas merah di lenganku sisa-sisa cengkraman istriku, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang dirasakan istriku 

saat itu. Hanya dengan cara itulah mungkin aku bisa ikut merasakan penderitaan yang dialaminya. Meskipun aku yakin dengan cara itu pula rasa sakitnyapun tidak akan berkurang.

 Tetapi setidaknya dia merasa aman karena ada sang suami berada di sampingnya.  Hampir saja aku membatalkan niatku untuk berangkat ke kantor kalau saja istriku tidak memaksaku untuk tetap berangkat.

Setelah aku membuka ruangan kerjaku, aku kembali ke luar menuju tempat dimana aku biasanya bersantai sambil menghisap rokok, menyesuaikan diri kembali dengan situasi kantor, membuat rencana-rencana kerja dalam otakku dan melepaskan pengaruh suasana rumah untuk sementara. Kemudian setelah habis satu batang, aku kembali ke ruangan kerjaku dan mulai 

menyalakan PC di meja kerjaku.

Baru saja logo “WINDOWS XP” muncul di layar monitor, HP-ku sudah meraung-raung. Aku lihat di layar HP-ku tulisan “RUMAH”, aku buka dan langsung aku dengar suara istriku “Mas,

 .pulang sekarang!” kemudian hubungan telepon langsung diputus. Aku sedikit panik, kemudian PC aku “Shutdown” dan aku bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motorku. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, aku baru tersadar, jika aku mengendarai motor dalam keadaan panik seperti itu bisa-bisa yang masuk rumah sakit bukan hanya istriku, tetapi aku juga. Maka aku menarik nafas dalam-dalam, aku tahan nafasku sebentar, lalu aku hembuskan berlahan-lahan… aku mulai merasa sedikit tenang.

18 Maret 2008…… (09:30)

Sesampai di rumah, aku lihat istriku sudah berpakaian rapih dan menghadangku di pintu, “Kita

 periksa aja yok sekarang..!”. Rencananya memang nanti malam, sepulang ak

u kerja kami akan mengunjungi bidan di tempat biasanya istriku memeriksakan kandungan. 

Menurut perkiraan bidan, kemungkinan minggu depan istriku sudah melahirkan. Tetapi semenjak semal

am rasa sakit itu, semakin sering dirasakan oleh istriku, mungkin pagi ini rasa sakit itu sudah

 tidak mampu lagi dia tahan, sehingga dia mengajak untuk meme

riksakan kandungannya sekarang.

18 Maret 2008…… (18:30)

Rasa sakit itu kelihatannya semakin menjadi-jadi, setidaknya itulah yang aku amati dari raut muka istriku. Matanya terpejam, bibir menyeringai, dan gigi

 dikatupkan rapat-rapat serta tangan kanannya mencengkeram lengan kiriku kuat-kuat. Aku memang meminta tangan kiriku saja yang kali ini dijadikan sasaran, karena tangan kananku sudah mulai terasa ngilu dan lebam. Keringat dingin mulai berhamburan, genaplah sudah guratan bekas cengkraman istriku bertambah satu menjadi tidak terhingga jumlahnya. Aku bertambah khawatir, lalu aku putuskan untuk memanggil seorang perawat untuk memeriksanya.


Benar seperti dugaanku, ternyata memang sudah saatnya istriku untuk melahirkan. Lalu aku mengangkat istriku ke kursi roda dan selanjutnya didorong oleh perawat  dari ruang perawatan menuju ruang melahirkan. Untungnya aku masih diperbolehkan masuk. Kuku-kuku tangan kanan istriku masih saja ditancapkan kuat-kuat pada lengan kiriku. Aku sudah tidak perduli, karena aku justru lebih kasihan lagi melihat kondisi istriku yang semakin mengerang-erang kesakitan. Dengan bantuan beberapa orang perawat aku angkat istriku dan aku baringkan di tempat tidur. Setidaknya ada 3 orang perawat dan seorang bidan yang sedang bersiap-siap menangani prosesi kelahiran.

Banyak sekali cairan berceceran di tempat tidur yang sudah dilapisi alas plastik. Ternyata air ketubannya sudah mulai keluar, saat itulah baru benar-benar dimulai pertaru

ngan hidup dan mati. Wajahnya sudah carut marut tidak karuan, meskipun guratan-guratan kecantikannya masih tetap ada. Laksana seorang gladiator yang sedang bertarung mempertahankan hidup, segenap tenaga ia curahkan. Bulir-bulir keringat semakin mengalir deras dari seluruh permukaan kulitnya. Dia merasakan seperti ada bagian dari tubuhnya yang mendesak-desak ingin keluar. Jemari tangan kirinya kini berganti aku genggam, tangan kanannya meremas pelapis tempat tidur sebagai tumpuan. Akhirnya setelah melalui tiga kali jeritan keras, bertepatan dengan berkumandangnya suara adzan “Isya” dari masjid sebelah, akupun membacakan adzan tepat di telinga kanan anakku. Aku lirik ibunya sudah mulai bernafas teratur, mukanya pucat dan basah oleh keringat. Sekarang aku sudah bisa bernafas lega. Aku pandangi terus wajah istriku yang sedikit mulai menyunggingkan senyum, aku cium keningnya perlahan dan aku bisikkan ditelinganya, “anak kita laki-laki, sehat, dan normal”, “terima kasih sayang…”. Lalu aku tinggalkan istriku dan anakku karena mereka harus menjalani perawatan pasca kelahiran.

Kubuka pintu ruangan melahirkan perlahan dan menutupnya kembali. Saat aku berbalik, aku lihat wajah-wajah adik kandung dan iparku semua menatapku dengan mimik muka yang seperti bertuliskan berubu-ribu pertanyaan menunggu kata-kata yang akan aku lontarkan. “Keponakan kalian lahir dengan selamat, laki-laki, normal”. “Alhamdulillah….” begitulah kata-kata yang hampir keluar bersamaan dari mulut mereka.

Aku kemudian berjalan mencari tempat yang sepi di ujung ruang tunggu. Aku hempaskan tubuhku ke kursi ruang tunggu sambil aku hembuskan nafas kuat-kuat. Aku memanjatkan syukur kepada Tuhan, lalu aku termenung memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi.

Aku teringat ibuku, beginilah mungkin yang ibuku alami pada saat beliau melahirkanku. 

Penuh perjuangan, bergelimang rasa sakit, dan harus berjuang hidup dan mati agar mampu menghadirkanku di dunia ini. Setimpalkah balasanku selama ini dengan apa yang telah diperjuangkan oleh ibuku. Apakah aku sudah memenuhi harapan-harapannya yang menjadikannya alasan untuk melahirkanku dan merawatku. Tetapi aku yakin, apapun yang telah aku lakukan ibuku akan selalu dengan ikhlas menerimanya. Karena ibuku melahirkanku dengan tanpa pamrih. Karena tubuhku adalah bagian dari tubuhnya yang telah terlepas.

Terima kasih Tuhan,

Engkau telah tambahkan lagi nikmatMu kepadaku. Berikanlah aku kekuatan untuk mampu menjaga amanatMu. Berikanlah aku petunjukMu agar aku dapat merawat titipanMu.

Terima kasih istriku,

Karena seperti ibuku telah mengahdirkanku dan merawatku didunia ini, engkaupun akan merawat anak kita tanpa pamrih dan penuh kasih sayang. Aku yakin itu ….

Doa seorang Insinyur..
5:11 PM | Author: Mr.Xu

 

Ya Tuhanku,

Berikanlah gaya yang besar padaku melebihi gaya yang dikerjakan bumi kepadaku, sehingga aku mampu berpijak dengan kokoh, supaya aku selalu menyadari dari mana asal diriku.

Ya Tuhanku,

Berikanlah aku gaya yang besar, supaya aku dapat berotasi setidaknya mampu bertranslasi. Aku bosan menjadi indeferen, aku ingin goyah, aku ingin berubah sesuai amplitudo dan frekwensi yang berarti.

Ya Tuhanku,

Jadikanlah dunia bergerak relatif terhadapku, aku tidak ingin dunia bergerak bersamaku, karena jika itu terjadi berarti aku tidak bisa melangkah maju.

Ya Tuhanku,

Pasangkanlah pada mata hatiku lensa dengan dioptri yang bisa untuk diubah-ubah sesuai keinginanku, sehingga aku mampu melihat dunia dengan jarak pandang yang berbeda-beda, sehingga aku dapat melihat setiap masalah dari sudut pandang yang berupa-rupa, sehingga aku sanggup menggapai hikmahMu.

Ya Tuhanku,

Berikanlah pada kapasitorku muatan yang sesuai dengan batas kapasitasku, jika tidak maka aku akan menjadi eksplosif. Jika tidak maka seluruh sirkuit jiwaku akan meregang nyawa.

Ya Tuhanku,

Berikanlah pada resistorku impedansi mental yang tinggi, sehingga aku dapat malalui seluruh ujian-ujian hidup dariMu dengan ikhlas dan tetap bersabar.

Pasangkanlah pada diriku dioda-dioda yang mampu mengarahkan jalan hidupku sesuai alur dan algoritmaMu.

Amien….

Cinta dan Bianglala
11:20 PM | Author: Mr.Xu

 

Ada apa dengan Cinta? Ada apa dengan Bianglala (pelangi) ? Apakah ada hubungan diantara keduanya ? beberapa ungkapan mengkin bisa menggambarkannya.

Kala cinta sedang membara, segala rupa isi dunia terasa indah.

Bianglala bukanlah hanya tahta dewata, tetapi serupa ungkapan jiwa nan bergelora.

Setiap warna adalah puja, setiap warna

 adalah kata cinta.

 

Warna seringkali dipergunakan manusia untuk mengasosiasikan perasaan cinta. Bahkan seorang Jhon Lee mampu melahirkan buku yang berjudul The Colors of Love (1973). Lee menganalogikan jenis-jenis cinta selayaknya warna dibagi atas tiga warna dasar, yaitu : (1)Eros, (2) Ludos, dan (3) Storge.

Seumpama warna, dimana kombinasi dari warna-warna dasar (warna primer) mampu menciptakan warna lain yang berbeda (warna skunder). Pembagian cinta menurut Lee dapat dijabarkan

 sebagai berikut :


A. Cinta Primer,

  1. Eros ~ Cinta terhadap orang yang ideal,
  2. Ludos ~ Cinta hanyalah permainan,
  3. Storge ~ Cinta adalah persahabatan.

B. Cinta Skunder,

  1. Mania ( Eros + Ludos ) ~ Cinta obsesif,
  2. Pragma ( Ludos + Storge ) ~ Cinta yang praktis dan realistis,
  3. Agape ( Eros + Storge ) ~ Cinta Tulus tanpa pamrih.

Termasuk jenis yang manakah, cinta anda terhadap pasangan anda ?

My Blog List

  • Laughing before it’s illegal - [image: laugh]Don’t be afraid to laugh. Laugh not make you look like a fool or make your authority will go down if you have appropriate reasons. But you ...
    17 years ago
  • TRiMaKaSiH CiNTa - *Dan bila aku berdiri* *Tegar sampai hari ini* *Bukan karena kuat dan hebatku* *Semua karena cinta* *Semua karena cinta* *Tak mampu diriku* *dapat berdiri t...
    17 years ago