"Ya Allah Ya Rabb ampunilah kami yang telah Engkau beri mata tetapi seringkali buta, yang telah Engkau beri telinga tetapi kadangkala tuli, yang telah Engkau beri akal tetapi enggan befikir dan yang telah Engkau beri hati tetapi kami membuatnya selalu terkunci."
"Ya Allah, jika untuk membuka mata kami Engkau hadirkan bara api dihadapan kami yang cahaya dan panasnya mampu menembus mata kami yang terkatup, maka kuatkanlah kami, gerakkanlah kelopak mata kami sehingga segera terbuka sebelum gejolak apiMu semakin membesar."
"Ya Rabbi, jika untuk membuat telinga kami mendengar Engkau meledakkan gunung-gunung dengan suara bergemuruh, maka janganlah Engkau beri beban kami dengan ujian yang kami tidak bisa menyelesaikannya."
"Ya Allah, jika untuk menghilangkan kemalasan kami untuk berfikir, Engkau uji kami dengan kesulitan hidup, maka bukalah fikiran kami sebelum akhirnya kami berputus asa."
"Ya Rabbi, jika untuk membuka kepekaan hati kami engkau perlihatkan dihadapan kami korban-korban bencana yang bergelimangan penderitaan, maka gerakkanlah hati kami, karena hanya Engkaulah Sang Maha Penggenggam hati."
Siang itu saya sedang membuka-buka email yang masuk dan membacanya satu demi satu dan membalas beberapa email yang sekiranya perlu untuk ditanggapi atau diberi jawaban. Ada sebuah email yang menurut saya cukup menarik, yaitu sebuah laporan dari Departemen Quality mengenai hasil "Vibration Test" sebuah produk LED Television. Pada email itu disertakan sebuah lampiran berupa Foto Pengujian. Terlihat di dalamnya sebuah gambar dimana sebuah LED terikat dengan tali yang disediakan khusus dan berada diatas sebuah alat penguji getaran. Tujuan pengujian ini adalah untuk menguji sejauh mana daya tahan produk terhadap getaran mekanik yang diatur dengan tingkat kekuatan tertentu dan terukur. Pengujian ini sekaligus juga sebagai simulasi pada saat produk berada dalam truk selama pelaksanaan distribusi.
Banyak hasil pekerjaan yang diuji dari metode uji getaran ini, antara lain bagaimana desain pakaging, apakah cukup memadai, atau apakah setiap bagian-bagian komponen sudah dirakit dengan benar, apakah semua bagian yang dirakit sudah berada tepat ditempatnya sesuai fungsinya masing-masing, dan lain-lain. Lalu, tiba-tiba saja muncul pemikiran iseng dalam benak saya, mendengar sedang terjadinya berbagai bencana alam di negara tercinta ini, bagaimana seandainya yang diuji dengan alat vibration test tersebut adalah bumi kita ?
Saya bayangkan bumi sedang berada di atas alat uji tersebut, terguncang-guncang sedemikian rupa . Kadang kala secara tiba-tiba seperti dihempaskan, lalu seperti diguncangkan kekiri dan kekanan. Pertanyaannya adalah, jika seandainya Produsen bumi kita ini kemudian melakukan pengujian terhadap bumi ini, sebenarnya apa yang mau diuji ? Kenapa harus di uji ?
Seperti halnya produk elektronik, salah satu yang akan diuji dengan alat uji getar adalah kekuatan ikatan antar komponen-komponen. Kekuatan ikatan yang menyatukan satu bagian dengan bagian yang lain, yang membentuk satu kesatuan fungsi. Demikian pula manusia sebagai bagian dari sistem kehidupan alam semesta ,saat ini sedang diuji dengan metode "Uji Bencana", sejauh mana masing-masing sebagai jiwa dan pribadi saling terikat satu sama lain, sebesar apa kepekaan masing-masing manusia jika ada sebagian saudaranya yang mendapatkan cobaan apakah mereka saling melindungi, atau justru menjadikannya terpecah belah. Hanya kita masing-masing yang memiliki jawabannya. Carilah jawabannya dalam diri masing-masing , tidak perlu mencari-cari jawaban itu ada pada orang lain. Cari pada kedalaman jiwa kita, tidak perlu melihat apa yang ditampilkan oleh orang lain.
QS 29: 2. " Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? "
Mudah-mudahan kita semua mampu malalui segala ujian-ujian Allah dengan sabar dan tawakal . Sehingga mampu ter-upgrade-kan menjadi pribadi yang semakin lebih baik, pribadi yang sadar akan fungsi dan posisinya untuk senantiasi menghambakan diri kepada Sang Maha Pencipta. Mudah-mudahan seandainyapun masih ada bagian-bagian yang belum terakit dengan kuat, Allah akan memperbaikinya.
QS 21: 35. " Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. "
Semoga apa apa yang telah terjadi di sekeliling kita, bisa menjadikan renungan dalam mempelajari ayat-ayat Allah...
Wallahu a’lam bish-shawab .......
Pagi ini, kebetulan aku menyasikan acara TV, awalnya ingin mencari tentang perkembangan posisi terakhir hasil pertandngan piala dunia sepak bola di Afrika Selatan. Beberapa saluran telah aku pilih, tetapi yang aku cari tidak juga muncul, justru hampir semua stasiun TV secara kompak memberitakan informasi yang sama dan dengan ilustrasi tayangan yang hampir serupa pula, yaitu tentang seorang publik figur yang terjerat sebuah kasus hukum, dan telah ditetapan sebagai tersangka.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk ikut menghukum sang tokoh, tidak juga membenarkan tindakan sang tokoh jika itu memang terbukti, atau membahas bagamana sangat efektifnya media dengan kekebalan kebebasan persnya mampu mengangkat citra seseorang dan sekaligus juga mampu membunuh karakter seseorang dengan sangat keji, maupun mengenai bagaimana kasus ini juga telah meracuni fikiran anak-anak secara lebih luas. Tetapi aku cukup tergelitik dengan pernyataan seorang pimpinan sebuah provider telpon seluler yang mengataan bahwa ada lonjakan yang cukup signifikan terhadap permintaan NSP lagu dari tokoh yang aku bicarakan di atas. Dan ternyata judul yang diminati itu adalah "TAK ADA YANG ABADI"
Timbul pertanyaan dalam benakku kenapa lagu tersebut begitu sangat diminati banyak orang, lalu aku mencoba membuka-buka koleksi lagu-lagu yang telah dinyanyikan oleh sang tokoh dan mencoba menyimak syairnya. Pada intro pembuka terdengar alunan melodi dari sebuah inatrumen musik yang menurut aku sebagai orang awam telah mampu mengkondisikan pendengar memasuki suasana lagu yang ingin diciptakan oleh pencipta lagunya.
"Takkan selamanya tanganku mendekapmu"
"Takkan selamanya raga ini menjagamu"
"Seperti alunan detak jantungku"
"Tak bertahan melawan waktu.."
"Tak ada yang abadi.. 3x"
"Biarkan aku bernafas sejenak sebelum hilang....."
"Jiwa yang lemah segera pergi,"
"Bersiaplah para pengganti.."
"Tak ada yang abadi.. 3x"
Terlepas dari hiruk pikuknya kontroversi yang telah terjadi, kasus ini ternyata sedikit banyak menyisakan nilai-nilai kebaikan berupa hikmah dan telah menginspirasikan sebagian orang untuk sedikit merenung bahwa tidak ada keabadian di dunia ini. Keabadian adalah hak mutlak Allah, karena Dialah akhir dari segala penghentian.
Manusia boleh bangga atas segala apa yang telah ia capai di dunia ini, tetapi semuanya akan menemui ujung perjalanan hidupnya. Yang akan membedakan adalah dimana masing-masing jiwa membuat pilihan, di titik mana dia akan berhenti. Meskipun sebenarnya Allah telah menentukan benang merahnya, tetapi kita masih diwajibkan untuk melakukan ikhtiar untuk menyertai doa kita. Hal ini perlu kita lakukan agar kita selalu ditempatkan pada jalur yang terbaik menurut Allah, bukan hanya sekedar terbaik menurut logika akal kita.
Jika saja suatu saat, kita diberi kesempatan untuk dapat merenungkan perjalanan hidup kita dan apa yang terjadi di sekeliling kita, maka sebenarnya seperti sebuah pemancar, Allah senantiasa memancarkan nikmat-nikmat terbaikNya ke segala arah, dengan seluruh panjang gelombang dan tingkat frekwensi yang ada, dengan daya pancarNya yang tak terhingga, bahkan tanpa memperdulikan siapa yang akan menerima seluruh limpahan kebaikan tersebut, apakah dia orang jahat atau orang baik.
seperti halnya kita memiliki TV kabel atau TV berlangganan lainnya, yang mampu menerima sinyal-sinyal siaran adalah mereka yang berlangganan dan memiliki decoder yang sesuai yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan layanan TV berlangganan tersebut. Hati kita adalah sebuah dekoder yang mampu menerima seluruh nilai-nilai yang terpancar di segala ruang jagad raya. Hanya sebagian dari sinyal-sinyal itu yang mampu ditangkap oleh akal kita, yaitu sinyal yang frekwensinya sesuai dengan setting yang telah dilakukan terhadap diri kita. Begitu pula dengan pancaran gelombang kebaikan yang Allah pancarkan di sekeliling kita, hanya orang-orang tertentulah yang mampu merasakannya. Sebagian tidak mampu menerima dan merasakan kebaikan itu karena hijab (penghalang), barier yang menghalangi pandangan mata batin kita. Kita cukup berlangganan atau meminta kepada Allah, dan InsyaAllah akan dilepas segala hijab dari batin kita. Jika kita sudah berlangganan maka kita akan dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.
Sebagai pelanggan Allah, kita telah diberikan instrumen berupa hati. Agar hati sebagai pesawat dekoder kita bisa berfungsi, maka perlu dilakukan setting. Tujuannya agar frekwensi referensi hati kita selalu sesuai dengan frekewensi kebaikan yang Allah pancarkan. Dan atas "Rahman" dan "Rakhim" -Nya lah, sebagai kemudahan dan fasilitas, Allah telah menerbitkan sebuah buku manual/petunjuk berupa KITAB-KITAB SUCI dan seorang TEKNISI terpilih yaitu para nabi dan rosul serta para ENGINEER yang selalu mendampingi yaitu para malaikat. Semua itu sebenarnya merupakan suatu fakta yang jelas jika kita mau memahaminya.
Wallahu 'alam bi sawab...
Aku Kini dan kakak kandungku Dulu, serta adikku Esok yang masih berada dalam kandungan ibu. Kami bertiga adalah bersaudara, anak-anak yang pernah dan akan lahir dari rahim sang Waktu.
Dulu, kakakku dilahirkan terlebih dahulu, dia adalah awal dari keterlanjutan dinasti keluargaku. Kata ibu, kakakku bagaikan sebuah legenda yang pernah mengukir sejarah. Tetapi pernah pula dia terjerumus ke dalam kisah hitam yang nista, sampai-sampai kehadirannya hampir saja ter-aborsi oleh sebuah keadaan. Untung saja ibuku kemudian sadar, bahwa baik atau buruk adalah suratan Tuhan, keberadaannya bukan untuk dimusnahkan, tetapi rupa ragamnya bisa juga dijadikan suatu pelajaran.
Dulu, kakakku prilakunya sudah tidak mungkin dirubah, dia hanya bisa dijadikan tanda akan pernah hadirnya sebuah peradaban. Dia adalah sebuah cermin kitab prilaku. Darinya kita tahu, bahwa kebaikan akan berbuah kedamaian, walaupun gagal, tetapi sifatnya tidaklah kekal. Darinya kita juga tahu, bahwa kejahatan betapapun lembutnya tetap selalu saja menyakitkan, lukanya hampir saja abadi, walau mungkin tetapi tetap saja sukar untuk diobati. Lalu, ketika dari itu kemudian lahir sebuah dendam, maka akan lahir kejahatan-kejahatan lain yang lebih menyakitkan.
Dulu, kakakku kisah hidupnya selalu saja bisa banyak diungkapkan, kerena dia telah hidup lebih lama beriringan dengan bertambahnya usia ibuku sang dewi waktu.
Aku, Kini baru saja lahir. Kehadiranku mungkin tidak banyak yang bisa diceritakan. Tetapi betapun aku sekuat tenaga untuk bertahan, aku kini akan tetap menjadi seperti kakakku Dulu, karena kami adalah bersaudara. Keberadaanku Kini, saat ini, juga adalah andil dari perjuangan kakakku Dulu. Kelahiranku prematur, oleh karenanya ibu selalu dekat denganku. Kehadiranku adalah singkat, tetapi ibu selalu berharap, keberadaanku akan memudahkan beliau melahirkan adikku Esok menjadi lebih mudah. Ibuku, sang dewi waktu, beliau selalu berharap agar aku dan kakakku mampu mewarnai prilaku adikku Esok, menjadi lebih indah, lebih bersemangat untuk mendobrak kebekuan masa silam, dan yang paling diharapkan agar adikku Esok mampu hadir mengubah dunia. Karena hanya itu satu-satunya harapan ibu yang sekarang usianya telah semakin renta. Hanya itu satu-satunya yang bisa beliau wariskan kepada sejarah.
Adikku, Esok adalah tumpuan harapan keluarga, karena hanya dia yang bisa diharapkan akan berubah. Sedangkan aku, Kini, meskipun masih bisa berubah, tetapi hidupku singkat. Tidak banyak yang bisa aku perbuat, tetapi apapun yang aku lakukan saat ini, atau sebentar lagi, akan sangat-sangat menentukan bagaimana adikku dilahirkan esok hari.
Adikku, Esok di sanalah kami semua menggantungkan impian. Hanya impianlah satu-satunya yang masih memberi kami kekuatan untuk tetap bertahan. Esok jika dia lahir nanti, dia akan membawa sekumpulan kertas putih yang sangat tebal. Di sanalah nanti, kami akan menulis sebuah kisah panjang yang mungkin saja bisa lebih panjang dibanding usia kakakku Dulu. Di sanalah nanti kami bisa memberi hanya sekedar catatan, atau uraian prosa kehidupan yang teramat-amat panjang, atau bisa juga kami tempelkan foto-foto keluarga kami Dulu, Kini, Ibuku Waktu, bahkan juga mungkin foto adikku sendiri.
Tetapi kami masih saja khawatir, jika saja tidak semua halaman kertas putih itu dapat kami gunakan, jika saja nanti tinta pena kami habis di tengah jalan. Tetapi apapun yang nanti akan terjadi semua sudah menjadi guratan nasib ketentuan Ilahi. Yang masih bisa kami lakukan adalah selalu bermimpi dan berdoa. Maka janganlah kita menjauh dari sisiNya. Karena jika dekat, Tuhan akan memilihkan kertas putih mana yang lebih mudah untuk dituliskan.
Kami, Dulu, Kini, dan Esok adalah anak Sang Ibunda Waktu. Meskipun lelah dan renta, beliau selalu saja berjalan. Karena ibuku, sang dewi waktu, tidak ingin kehidupan akan terhenti, kalau saja dia memutuskan untuk rehat, walaupun hanya sesaat.
Disadari atau tidak, diterima atau tidak, kita sebenarnya terperangkap dalam sebuah kehidupan ‘Dunia Digital’. Dunia yang ditandai dengan dua keadaan yang saling berlawanan, yaitu keberadaan akan kehidupan dan kematian, keberadaan akan adanya keberuntungan dan kerugian, keberhasilan dan kegagalan, sehat dan sakit, senang dan sedih, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Dalam sistem digital hanya dikenal dua buah bilangan yaitu 1 (hidup/lampu menyala) dan 0 (mati/lampu padam). Pada kondisi 1, berarti sirkuit dialiri arus listrik (current) atau mempunyai tegangan (voltage) , sedangkan pada kondisi 0, artinya bahwa sirkuit tidak mengandung arus maupun tegangan. Sistem bilangan dimana hanya ada 2 jenis bilangan yaitu 1 dan 0 sering disebut juga sistem bilangan berbasis dua atau ‘bilangan biner’. Bilangan berbasis dua inilah yang digunakan dalam setiap formulasi pemecahan sistem digital.
Dalam dunia digital terdapat filosofi bahwa setiap kehidupan pasti terdapat aliran yang menandai adanya pergerakan dari suatu kondisi ke kondisi lainnya atau singkatnya adalah setiap kehidupan pasti mengalami perubahan. Dan setiap perubahan pasti menimbulkan konflik atau ketegangan-ketegangan. Sebaliknya dalam setiap kematian tidak akan pernah ditemukan adanya konflik atau ketegangan. Kematian adalah kekal, dia berawal tetapi tidak berakhir. Manusia dikatakan mati karena memang dia pernah hidup, tetapi kehidupan manusia tidaklah berasal dari kematian. Hidup dan mati bukanlah proses yang dapat berbalik arah. Kehidupan dan kematian adalah tiket sekali jalan. Begitu kita memilih sutu jurusan, maka kita tidak akan pernah kembali ke keadaan semula.
Bilangan Desimal dan Bilangan Biner
Bilangan bebasis 10 atau bilangan desimal adala h bilangan yang terdiri dari angka-angka 0,1,2,…., dan 9, sedangkan bilangan berbasis 2 atau biner hanya terdiri atas angka 0 dan 1. Untuk mengetahui kesetaraan kedua sistem bilangan ini, kita dapat mempelajari contoh sebagai beikut :
Berapakah bilangan biner dari 9 ?
Angka 9 kita bagi 2 hasilnya adalah 4, sisa 1, 4 dibagi 2 hasilnya 2, sisa 0, 2 dibagi 2, sisa 0 hasilnya 1, maka bilangan biner(9) = 1001.
Berapakah bilangan biner dari 8 ?
Angka 8 dibagi 2 sisa 0 hasil 4, 4 dibagi 2 sisa 0 hasil 2, 2 dibagi 2 sisa 0 hasil 1, maka bilangan biner (8) = 1000.
Operasi sistem Digital
Seperti halnya bilangan desimal, dalam bilangan biner pun dapat diberlakukan operasi bilangan seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
1x1 = 1, 1x0 = 0 dan 0x1 = 0, 0x0 = 0.
Dalam dunia digital, 1 dan 0 adalah sebuah pilihan. Jika kita memilih 1 untuk hidup, maka kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Jika kita beruntung (x1), maka kita akan mendapatkan 1, yaitu keberhasilan dan jika sedang bernasib sial (x0) maka kita akan mendapat 0 atau kegagalan ( 1x1=1 dan 1x0=0 ). Tetapi jika kita memilih 0 yang berarti kematian, maka keberuntungan (x1) maupun ketidak-beruntungan (x0) sudah tidak akan didapatkan, karena setelah mati kita tidak akan mendapatkan kesempatan ( 0x1=0 dan 0x0 = 0 ).
Keberhasilan (1) akan membangkitkan pilihan baru yaitu proses kebaikan (1) maupun proses keburukan (0). Tetapi jika kita gagal (0) sebaiknya proses tidak usah diteruskan karena hasilnya adalah kegagalan yang baru ( 0 x 0 = 0 ). Kegagalan bukan berarti kita lalu berputus asa (0), kita harus kembali ke titik awal (1) dengan semangat yang baru. Jika kita mau belajar dari kegagalan sebelumnya (0), maka dengan sangat mudah hanya ada satu pilihan, yaitu keberhasilan (1). Artinya bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, karena begitu anda kembali ketitik awal dan tidak ingin melakukan lagi kesalahan yang sama, maka hanya ada satu kemungkinan yaitu keberhasilan(1).
Tegangan Listrik (voltage) yang ada dalam suatu sirkuit digital, berapa pun besarnya dapat dinyatakan dengan bilangan biner. Misalnya, tegangan 9 Volt adalah setara dengan bilangan biner 1001. Artinya betapapun besarnya konflik atau masalah yang dihadapi seseorang, masalah itu hanyalah terdiri dari rangkaian 1 dan 0, atau suatu ketegangan bisa diselesaikan atau tidak, tergantung dari kita membuat keputusan dari serangkaian pilihan (1001 = berhasil – gagal – gagal –berhasil ).
Di dalam dunia digital tidak dikenal istilah keragu-raguan. Karena jika kita ragu-ragu berarti perubahan akan berhenti. Itu sama saja dengan kita memilih untuk mati (0). Keragu-raguan tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi hanya menunda masalah, karena seberapa lama pun kita menunda untuk membuat keputusan, keputusan itu harus tetap diambil juga. Lebih baik kita mengalami kegagalan daripada memilih kematian , karena dengan kegagalan kita masih bisa kembali ke titik semula dimana kita hanya memiliki satu pilihan yaitu keberhasilan.
Digital Gate = Gerbang Digital
Selain operasi bilangan, bilangan biner juga bisa dimanipulasi dengan operasi logika. Operasi logika adalah sebuah operasi sebab dan akibat dari sebuah pilihan. Dalam operasi logika kita mengenal AND, OR, NAND, dan NOR. Operasi logika adalah oprasi bilangan yang biasanya menggunakan ungkapan “ Jika …. , Maka…. “
AND dan OR adalah operasi logika positif, sedangkan NAND atau NOR adalah operasi logika negatif.
AND
Jika 1 dan 0, maka hasilnya adalah 1 (1 AND 0 = 0)
Jika 1 dan 1, maka 1 (1 AND 1 = 1)
Jika 0 dan 0, maka 0 (0 AND 0 = 0)
Dari operasi di atas, maka ‘1’ baru akan dihasilkan jika kedua pilihan bernilai ‘1’. Artinya bahwa, jika sebuah kelompok sedang bekerja, maka ‘Keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh kinerja positif dari masing-masing anggotanya’ .
OR
Jika 1 atau 0, maka hasilnya adalah 1 ( 1 OR 0 = 1 )
Jika 1 atau 1, maka hasilnya adalah 1 ( 1 OR 1 = 1 )
Jika 0 atau 0, pasti hasilnya adalah 0 ( 0 OR 0 = 0 )
Dalam operasi ‘OR’, nilai ‘1’ akan dihasilkan jika salah satu pilihannya adalah 1, Artinya bahwa, ‘Selama masih ada kesempatan , keberhasilan pasti akan kita dapatkan’.
NAND dan NOR
Kedua operasi ini adalah operasi yang pesimis. Sifatnya adalah kebalikan dari gerbang AND dan OR.
Kesimpulannya adalah :
“ Hidup adalah sebuah pilihan. Jika kita memilih untuk hidup maka kita masih akan mendapatkan kesempatan untuk memilih. Jika kita masih memiliki pilihan berarti kita sedang menggenggam kebebasan . Jika kebebasan ada di tangan kita, maka hidup adalah keindahan “.
“ Janganlah takut menghadapi kegagalan. Kegagalan adalah sebuah sukses yang tertunda, karena setelah kita gagal kita akan mengetahui bagaimana cara untuk berhasil “.
“ Jika kita berfikir bahwa kita akan berhasil, maka semua tabir kesempatan akan terkuak , jika kita berfikir sebaliknya maka kesempatan akan terkunci rapat-rapat dalam ruang-ruang keraguan dan ketakutan “.
SELAMAT DATANG di DUNIA DIGITAL !
Opini masyarakat kita sudah terlanjur memfonis bahwa bahan kimia adalah monster yang menakutkan. Sebenarnya, seperti halnya bakteri, tidak semua bakteri itu merugikan. Ada juga bakteri yang bermanfaat bagi manusia. Demikian pula zat kimia, tidak semua zat kimia bersifat merusak, bahkan sebagian besar tubuh kita adalah zat kimia, sebagian besar aktifitas tubuh kitapun sebenarnya adalah reaksi kimia.
Dalam banyak textbook dituliskan bahwa zat kimia bisa dikelompokkan dalam ‘Kimia Organik’ dan ‘Kimia Anorganik’. Sebagian besar kegiatan tubuh makhluk hidup adalah terdiri dari bermacam-macam jenis reaksi kimia organik. Sedangkan bahan-bahan kimia anorganiklah sebenarnya yang banyak diproduksi secara masal pada industri-industri Kimia. Karena sebagian besar bahan kimia anorganik memang sukar diluruhkan dan menyatu dengan bahan-bahan kimia organik, maka keberadaan bahan kimia hasil sintesa industri inilah yang jika dalam jumlah di atas ambang batasnya berada dalam tubuh manusia dia akan bersifat merusak. Karena bahan-bahan kimia anorganik ini akan bereaksi dengan sejumlah bahan anorganik yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh kita. Atau jika bahan kimia anorganik yang tidak dibutuhkan oleh tubuh ini berada dalam jumlah besar, dia akan menjadi media yang subur untuk tumbuhnya sel-sel tumor dalam tubuh. Zat kimia anorganik inilah yang sering disebut oleh masyarakat awam sebagai ‘Zat Kimia ‘. Suatu difinisi spesifik yang menggantikan difinisi general sebuah difinisi ‘zat kimia’ secara umum. Sangat disayangkan !
Tulisan yang akan saya sampaikan disini sebenarnya bukan untuk membahas mengenai ‘kesalah-kaprahan’ opini yang sudah terlanjur tertanam di masyarakat yang awam mengenai Kimia. Seperti kata pepatah ‘Tak Kenal maka Tak Sayang’, saya akan mencoba mengungkap lebih lanjut pemahaman mengenai ‘Reaksi Kimia’. Reaksi kimia bukan saja sangat dominan secara fungsi dalam segala aktifitas makhluk hidup , tetapi banyak hal-hal yang bersifat filosofi yang juga bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya.
Larutan
Salah satu pengertian yang perlu dipahami sebelum membahas sebuah reaksi kimia adalah pemahaman tentang ‘Larutan’. Sebagian besar media dimana suatu reaksi kimia terjadi adalah berupa larutan. Larutan adalah suatu cairan multi komponen atau campuran zat yang terdiri dari zat terdispersi (zat terlarut) yang tersebar di dalam suatu zat pendispersi (pelarut). Biasanya zat terlarut jumlahnya jauh lebih kecil dibandungkan pelarutnya. Contoh-contoh larutan yang sudah banyak kita kenal misalnya, darah, minuman teh, kopi, larutan pembersih kaca, air aki, obat merah, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Jika kita menambahkan suatu zat terlarut sedikit demi sedikit kedalam sebuah zat pelarut, sehingga pada suatu saat akan terjadi bahwa zat terlarut sudah tidak bisa lagi tercampur sempurna dan terbentuklah endapan. Maka pada kondisi ini larutan disebut ‘Larutan Jenuh’. Kejenuhan ini terjadi karena ruang yang menyebabkan keboleh-jadian partikel zat terlarut berada di antara partikel – partikel zat pelarut sudah tidak ada. Akan tetapi jika larutan jenuh ini kemudian kita panaskan, maka ruang-ruang antara partikel zat terlarut akan semakin besar, ruang yang kosong akibat pembesaran ruang antar partikel ini kemudian dapat diisi lagi oleh partikel-partikel zat terlarut yang tadinya mengendap. Inilah yang menyebabkan mengapa gula pasir bisa larut lebih cepat jika kita campurkan ke dalam air yang panas atau sedang mendidih.
Reaksi Kimia
Dalam suatu larutan, partikel-partikel zat terlarut tersebar merata diantara partikel-partikel zat terlarut. Masing-masing partikel akan saling berinterkasi satu sama lain, sehingga akan terjadi 2 macam jenis interaksi, antara lain ‘Interaksi Sesama’ , interaksi antara sesama jenis partikel (zat terlarut v.s zat terlarut dan pelarut v.s pelarut) dan ‘Interaksi Beda Partikel’ , yaitu interaksi antara partikel yang berbeda (pelarut v.s zat terlarut). Interaksi beda partikel inilah yang mempunyai kemungkinan untuk terjadinya sebuah reaksi kimia.
Kondisi dimana gaya interaksi beda partikel jauh lebih besar dari pada sesama partikel inilah yang dikatakan bahwa zat terlarut adalah zat yang ‘mudah larut’. Tetapi jika sebaliknya, maka zat terlarut dikatakan zat yang ’tak mudah larut’.
Pada kondisi jenuh, dimana interaksi antara ‘partikel berbeda’ mencapai frekwensi yang maksimal, maka tumbukan antara kedua jenis partikel semakin sering terjadi. Jika energi yang dihasilkan dari tumbukan-tumbukan itu mencapai tingkat yang lebih besar dari pada energi ikatan yang merangkai atom-atom partikel, maka terjadilah ‘reaksi kimia’.
Pada reaksi kimia, pencampuran tidak hanya terjadi pada level partikel, tetapi sudah melibatkan bagian zat yang berukuran lebih kecil lagi, yaitu pencampuran atom-atom. Atom adalah materi-materi penyusun partikel (molekul) zat. Kombinasi dari susunan atom-atom inilah yang membawa sifat dan karakteristik zat. Seperti halnya huruf-huruf k,a,m,u yang membentuk kata ‘kamu’ akan mempunyai arti yang berbeda jika huruf-huruf itu disusun membentuk kata ‘muka’ atau ‘kaum’. Pada saat atom-atom zat terlarut dan pelarut saling tercampur, maka terbentuklah suatu kombinasi baru, yang secara otomatis juga akan membentuk materi yang mempunyai sifat yang berbeda dari sifat zat-zat terlarut maupun pelarut. Proses inilah yang disebut ‘sintesa kimia’ yang menghasilkan zat baru.
Secara teoritis, dengan mempelajari sifat dari masing-masing zat (ilmu kimia), maka kita bisa membentuk suatu zat baru yang mempunyai semua sifat-sifat yang dibutuhkan manusia dengan mereaksikan suatu zat kimia dengan zat kimia lainnya. Logam pelapis bagian luar pesawat ruang angkasa misalnya, adalah salah satu contoh hasil dari ‘rekayasa kimia’. Bahan tersebut mengkombinasikan sifat kuat logam, dengan material lain yang mempunyai sifat lebih ringan dan tahan panas.
Apakah Zat kimia sejauh ini masih menakutkan bagi anda ? Jika anda masih belum yakin cobalah anda memperhatikan sekeliling kita, bukankah sangat banyak zat kimia yang selama ini justru sangat bersahabat dengan kita ?
Filosofi Reaksi Kimia
Seperti halnya suatu zat yang dicampurkan ke dalam suatu pelarut, maka partikel-partikel zat akan berusaha mempengaruhi partikel-partikel zat pelarut agar mengurangi gaya interaksi antar sesamanya, dan memberikan ruang yang cukup agar zat terlarut bisa berada di antara mereka. Begitu pula ketika kita masuk dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu, maka kita harus mampu memberi kesan bahwa kehadiran kita di antara mereka bukanlah suatu ancaman, tetapi buatlah mereka memperoleh kesan bahwa kehadiran kita akan bermanfaat bagi mereka. Karakteristik suatu masyarakat satu dengan lainnya mungkin akan berbeda pada saat mereka kedatangan warga baru. Ada yang mau menerima setiap pendatang dengan tangan terbuka, tetapi banyak pula yang mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka pada setiap kedatangan orang asing di lingkungan mereka. Artinya bahwa, sebagai pendatang seharusnya kita bersifat seperti ‘zat yang mudah larut’. Kita harus melepaskan ikatan-ikatan ke-akuan kita, dan mau menerima lingkungan yang baru sebagai media positif untuk bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Kasus seperti halnya tragedi pembantaian warga asal madura oleh warga asli dayak di Kalimantan misalnya, adalah suatau contoh dimana ‘larutan’ masyarakat sudah mengalami titik ‘jenuh’, artinya sudah tidak ada lagi ruang yang cukup disediakan bagi pendatang-pendatang warga madura di sana untuk dapat berbaur secara baik di tengah-tengah masyarakat lokal di sana. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, jika sebelumnya larutan itu diberikan energi yang cukup untuk menciptakan kondisi yang kondusif, dimana kesempatan berusaha antara masyarakat lokal dan pendatang adalah sama. Tidak ada kesenjangan di antara mereka. Sehingga larutan yang semula akan mencapai titik jenuh bisa kembali berubah.
Jika kita sudah bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, maka tingkatkanlah frekwensi interaksi kita dengan masyarakat sekeliling kita. Perbanyak silaturahmi dengan mereka, dan carilah kawan sebanyak-banyaknya, serta tidak menciptakan musuh-musuh baru. Tingkatkanlah rasa keperdulian kita dengan sesama tetangga, sehingga kita dan masyarakat bersama-sama membentuk suatu senyawa masyarakat baru yang lebih baik.
Dalam lingkungan perusahaan atau lingkungan kerja, seorang manager hendaklah mampu bertindak layaknya seorang ‘Chemist’ (ahli kimia) yang dapat meracik sebuah ‘larutan’ team work menjadi sebuah seyawa baru yang memiliki seluruh sifat-sifat positif dari anggotanya, dan mengeliminir semua sifat-sifat negatif menjadi sebuah pengalaman bersama.
Jika saja kita bisa menggunakan nurani dan mau membaca ayat-ayat Tuhan lebih seksama, sesungguhnya masih banyak lagi filosofi rahasia-rahasia alam ciptaan Tuhan yang dapat kita pergunakan sebagai pelajaran.
Selama kita masih berstatus makhluk, maka kita akan selalu bergelimang dengan kebenaran dan kesalahan meskipun keduanya hanyalah bersifat relatif. Semua yang hakiki dan mutlak hanya milik Sang Maha Pencipta.
Secara naluriah, manusia selalu akan mencari kebenaran. Sebagai sebuah proses, pencarian kita akan kebenaran tidak serta merta langsung mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi setahap demi setahap, dari kebenaran relatif satu ke kebenaran relatif yang lain dan pada akhirnya pada suatu saat kita akan mendapatkan kebenaran yang sempurna, yaitu kebenaran ilahi yang hakiki. Lalu mengapa kebenaran-kebenaran relatif itu ada ? Kebenaran relatif adalah kebenaran yang masih mengandung prasyarat konteks atau situasi. Pada suatu konteks tertentu kebenaran bisa menjadi salah, demikian pula sebaliknya pada saat yang lain kesalahanpun bisa dibenarkan.
Karena konteks relatifitas ini pulalah, maka ilmu selalu dapat berkembang, pengatehauan manusia terus mengalami perubahan. Karena pada dasarnya terjadinya perubahan adalah karena adanya perbedaan relatif suatu kondisi dengan situasi yang lain.
Keterbatasan manusia pulalah yang mengakibatkan seseorang sering beranalogi untuk mencari kebenaran. Meskipun cara ini cukup ampuh untuk memahami suatu permasalahan, tetapi sering kali pula analogi yang dikembangkan justru menjerumuskan kita kepada pembenaran yang sebenarnya tidak berdasar.
Aku teringat pada suatu kejadian beberapa waktu yang lalu. Seorang teman mem-forward-kan melalui e-mail sebuah artikel yang dia dapat dari Internet. Isinya kurang lebih begini :
“ Gue gak nyangka kalo 2 + 2 = 5 itu bisa dibuktiin secara matematis! Selama ini elo setuju kan kalo 2 + 2 itu sama dengan 4? Gue akhirnya nemuin rumus pembuktian untuk hal itu! Percaya gak lo…? Baca aja pelan-pelan dan jangan lupa corat-coret di kertas kalo elo emang penasaran!!
- Pertama-tama…
Pikirkan angka a. Angka apa aja.
- Sekarang bikin angka b.
- Angka a harus sama dengan b. Catet tuh: a = b
- a*a = b*a. Ya kan? Angkanya sama loh.
- Karena angka itu sama di kedua sisi, boleh kan gue kasih sesuatu?
Nih, a*a - b*b = b*a - b*b. Perhatikan - b*b yang sama di kedua sisi.
- Kalo difaktorkan, persamaan kita menjadi (a+b)*(a-b) = b(a-b).
- Dari persamaan tersebut, kita bisa “mencoret” angka yang sama, yaitu (a-b), sehingga persamaannya menjadi: (a+b)*
(a-b) = b(a-b).
- Setelah dicoret, hasilnya menjadi (a+b) = b
- Sekali lagi, jika gue kasih angka yang sama di kedua sisi, sama aja kan? Nih dia, (a+b) +3 = b + 3
- Sekarang misalnya kita menganggap kalo a = 1. Catet dulu tuh.
- Karena a = b , maka b = 1 juga kan?
- Masukkan angka itu ke persamaan no 9 –> (1+1) +3 = 1 + 3
- 5 = 4
NAH LO!! 5 = 4 !!?
BERARTI 2 + 2 = 4. KARENA 4 = 5 , MAKA TERBUKTILAH BAHWA 2 + 2 = 5 !!
…masih gak percaya? Berikan komentarmu! “
Secara logika, pembahasannya bisa diterima secara nalar. Tetapi apakah itu benar ?
Secara serta merta, dengan membaca secara berlahan seperti yang disarankan temanku itu, akupun mendapatkan sebuah gambaran. Apalagi aku merasa tertantang untuk sekedar memberikan komentar. Maka akupun membalas e-mail temanku itu dengan komentarku sebagai berikut:
“ Ha..ha.. ini adalah sebuah analogi akal-akalan..karena :
1. Karena a = b , maka (a-b) = 0
2. Memfaktorkan bilangan dengan angka 0 adalah sia-sia, karena semua bilangan dikalikan 0 adalah 0, 10 * 0 = 3 * 0 = 0
3. a * 0 = b * 0=0, jadi 2 + 2 bisa saja tidak hanya sama dengan 5, tetapi bis juga 7, 16, berapapun yang kita suka, jika faktornya pengalinya adalah nol .
Begitulah..komentarku... “
Uraian temanku mengenai pembuktian bahwa 2 + 2 = 5 memang secara konteks formula adalah benar. Tetapi saat formula itu kita aplikasikan dengan angka pembenaran itu kembali menjadi mentah. Inilah salah satu contoh kebenaran relatif. Pada kasus ini, cara temanku tersebut menganalogikan pembuktian kebenarannya itu menggunakan notasi-notasi matematika seolah-olah benar. Tetapi inilah Analogi Sesat, kenapa sesat? karena analogi ini menjerumuskan pembacanya untuk membenarkan suatu kaidah yang sebenarnya adalah salah.
Analogi ini seperti halnya seperti menyamakan hewan dengan manusia. Jika kita menganggap bahwa kemusnahan itu adalah angka nol, maka hewan yang dimusnahkan akan menjadi musnah, dan manusia yang dimusnahkan juga akan menjadi musnah. Jadi semua keberadaan (bilangan >0) dimusnahkan (dikalikan dengan ‘0’) maka hasilnya adalah tidak ada (‘0’). Tetapi analogi ini tidak serta merta membetulkan bahwa HEWAN = MANUSIA, hanya karena HEWAN dan MANUSIA sama-sama bisa dimusnahkan.
Tetapi teruslah beranalogi, karena apapun hasilnya, jika kita mau terus-menerus mengujinya, kita akan mampu memahami alam semsta menjadi lebih mudah.
Adakah kebaikan mencari perbedaan dalam kesamaan ataukah mencari kesamaan dalam perbedaan ?. Adakah lebih mudah mencari perbedaan ataukah lebih mudah mencari kesamaan ? Adakah alasan yang pantas untuk mengurai semua perbedaan ataukah ada argumen yang kompeten untuk menghimpun semua kesamaan ?
Tidak semua usaha mencari perbedaan adalah suatu kesalahan, dan tidak semua perbuatan menghimpun kesamaan adalah suatu kebaikan.
Apa yang membedakan istriku dengan wanita lain ? Bedanya adalah Istriku mencintai aku sedangkan wanita lain tidak. Bedanya, istriku mau menerima aku apa adanya sedangkan wanita lain belum tentu bisa menerima semua kekuaranganku, seperti halnya istriku menjadikan kelemahanku sebagai kekurangannya juga. Istriku bersedia dan rela melahirkan dan merawat kedua anakku dengan rasa kasih sayang, apakah ada wanita lain yang mau ?. Apakah salah, dalam hal ini aku mencari perbedaan dalam kesamaan. Mereka sama-sama wanita tetapi aku perlu mencari perbedaan-perbedaannya untuk jauh lebih mengenal mereka, agar aku semakin menyayangi istriku, dan agar aku selalu mempunyai alasan untuk tetap setia kepadanya. Bukankah ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang”.
Contoh yang lain adalah untuk tujuan-tujuan identifikasi, para ilmuwan lebih banyak mencari perbedaan-perbedaan dari sebuah objek yang nampaknya mempunyai kesamaan. Maka dikenallah berbagai macam hirarki pengelompokan seperti species, ordo, genus, dan seterusnya.
Sebaliknya, ungkapan-ungkapan “Kamu kan cina, tempatmu disana, jangan disini” atau “Kamu Jawa bukan Sunda, kamu Islam bukan Kristen, kamu wanita ke dapur sana!” , atau ungkapan-ungkapan provokasi yang lain yang mengedepankan perbedaan di tengah-tengah kesamaan dan menjadikannya sekecil apapun perbedaan sebagai objek hinaan, menumbuhkan eksklusifitas, serta pengelompokan-pengelompokan lain yang menggerogoti perdamaian. Banyak sekali peristiwa-peristiwa kejam dan perpecahan bermula dari usaha-usaha pencarian perbedaan yang cenderung mengada-ada dan dengan tujuan yang tercela. Kasus pencarian perbedaan yang terakhir inilah yang termasuk kejahatan, karena bukan kebaikan yang di dapat, tetapi justru kehancuran yang akan diperolehnya.
Jadi “ General to Specific “ tidaklah sepenuhnya salah, tetapi bergantung dari apa tujuannya. Untuk identifikasi, atau pengenalan, maka perlu dilakukan pembedaan. Tetapi membesar-besarkan perbedaan untuk tujuan adu domba dan perpecahan bukanlah perbuatan yang dianjurkan.
Lalu bagaimana dengan usaha mencari Kesamaan dalam Perbedaan, “Specific to General” ? apakah semuanya akan menghasilkan kebaikan ? Tentu saja sama, seperti mencari perbedaan, hasil akhirnyapun bergantung niat dan tujuan mencari kesamaan itu sendiri. Tentara zionis Israel, misalnya, dengan alasan-alasan yang sangat tidak manusiawi , mereka menyamaratakan bahwa semua penduduk Palestina adalah Hamas, tidak perduli apakah dia wanita ataukah balita dan anak-anak, semuanya mereka bantai tanpa belas kasihan. Mereka menganggap bahwa manusia lain selain golongan mereka adalah hewan yang boleh seanaknya direnggut nyawanya, tidak perduli apakah lawan yang dihadapinya benar-benar makhluk yang sudah tidak berdaya. Mereka bahkan sengaja menjadikan mayat anak-anak Palestina sebagai santapan anjing piaraan mereka yang ganas, anjing buas yang sebuas dan seganas tuan-tuan mereka. Lalu adakah perbedaan antara mereka dengan hewan-hewan peliharaan mereka ?
Dalam hal mencari kesamaan dalam keberagaman penduduk Indonesia, keperbedaan suku dan agama yang berkembang dalam masyarakat sekeliling kita, semua itu adalah pencarian kesamaan dalam perbedaan yang benar-benar diharapkan. Usaha ini akan melahirkan kebaikan, memupuk benih-benih kebersamaan, menggalang persatuan dan menumbuhkan kekuatan rakyat, menciptakan beribu-ribu kedamaian dan menyemai kesejahteraan bersama. Usaha inilah yang dewasa ini terasa semakin hilang dari lingkungan kita. Kita masing-masing justru sibuk mengkotak-kotakkan diri masing-masing dalam suasana persaingan yang menghalalkan segala cara demi mencapai keuntungan sepihak.
Masing-masing perbuatan akan berpulang kepada kita, apakah kita akan memilih kebaikan ataukah cenderung mengedepankan keburukan. Semua tergantung niat, semua tergantung tujuan pribadi masing-masing. Itu semua membuktikan bahwa tidak ada kebenaran yang hakiki, selain kebenaran yang berasal dari Tuhan. Kebenaran relatif milik manusia masih memungkinkan untuk terkontaminasi oleh kebenaran semu sepihak yang belum tentu diterima oleh pihak lainnya. Lalu bagaimana kita bisa memperoleh kesamaan di sela-sela segala perbedaan yang nampak dominan ?
Untuk dapat menangkap kesamaan dari semua perbedaan adalah dengan mengubah pola fikir kita untuk menerima bahwa semua perbedaan hanyalah sebuah asesoris belaka dan apabila semua asesoris perbedaan itu kita hilangkan, maka semua akan melihat suatu unsur dasar yang sama. Untuk mengetahui sebuah kesamaan, maka kita harus mengembangkan sebuah pertanyaan “Bagaimana jika semua asesori itu tidak ada ? Apa yang terlihat ? “. Itulah cara yang paling mudah untuk mencari kesamaan dalam perbedaan.
Apa persamaan wanita dan pria ? Jika wanita dan pria kita lepas pakaiannya apakah sudah terlihat sama? tidak, organ tubuh keduanya berbeda. Lalu jika semua daging kita lepas dari tubuh manusia dan hanya meninggalkan tulang-belulang saja, apakah tulang-belulang pria dan wanita berbeda? Jika masih ada perbedaan, maka cobalah meniadakan bentuk dan fungsi tulang sehingga hanya tertinggal masing-masing sebuah sel tunggal. Apakah keduanya sudah sama? belum !, sel tubuh wanita mempunyai kromosom dengan kode gentika XX sedangkan sel tubuh pria mempunyai kode genetika XY. Lalu jika kode X dan Y pada digit kedua kita hilangkan, maka kita akan menemukan bahwa Pria dan Wanita adalah sama. mereka sama-sama memiliki faktor genetika X. Ini membuktikan bahwa semua manusia berasal dari satu manusia yang sama, yaitu Nabi Adam AS.
Contoh yang lain adalah pada saat kita mencari kesamaan antara bentuk-bentuk geomotri Lingkaran, Segitiga, atau Bujursangkar (lihat tulisan saya terdahulu yang berjudul : ”Unsur Paling Dasar Alam Semesta”). Jika difinisi mengenai bentuk lingkaran, segitiga, dan bujursangkar tidak pernah ada, maka ketiga bentuk tersebut adalah sama, yaitu sama-sama merupakan kumpulan-kumpulan titik. Sebagai analoginya adalah jika kita berada dalam suatu tim kerja yang terdiri dari beberapa orang dengan latar belakang berbeda, maka janganlah cari perbedaannya, tetapi carilah kesamaannya, yaitu kita mempunyai tujuan tim yang sama. Sehingga setiap perbedaan adalah anugrah, dan semua kitidak samaan adalah aset tim yang saling melengkapi.
Sekarang, apakah aku perlu mencari kesamaan antara Istriku dengan wanita-wanita cantik lainnya ?
Hidup adalah perubahan. Tanpa kehidupan tidak ada besar dan kecil. Tanpa kehidupan anak-anak tidak akan pernah menjadi dewasa. Tanpa kehidupan yang muda mustahil menjadi tua.
Perubahan adalah sahabat keadaan dan waktu. Dengan perubahan kita mengenal perbedaan. Dengan perubahan kita mengerti arti ‘sebelum’ dan ‘sesudah’. Karena sesungguhnya, perubahan adalah perjalanan suatu keadaan mengarungi semua batasan waktu.
Untuk berubah kita memerlukan energi. Tanpa tenaga perubahan tidak pernah akan terjadi. Lalu, bagaimana kita mendapatkan energi untuk berubah ?.
Seperti halnya rangkaian elektronik, dia bekerja memerlukan catu daya (E), dia berfungsi karena ada aliran arus listrik (I) antara kutub positif dan negatif. Sedangkan arus listrik hanya mengalir jika ada perbedaan tegangan (V), dan perbedaan tegangan hanya mampu dibangkitkan jika ada sebuah catu daya. Semakin besar catu daya, maka akan semakin besar arus yang dihasilkan.
Bagaimana dengan catu daya dalam sirkuit kehidupan ? Yang dapat dijadikan sebagai sumber energi penggerak kehidupan adalah ‘Impian’, ‘Cita-cita’, ‘Keinginan’, ‘Harapan’, atau ‘Tujuan Hidup’. Impian adalah sumber energi perubahan. Tanpa impian tidak akan mengalir arus kehidupan. Tanpa impian tidak akan tercipta keampuhan daya juang. Dengan impian berjuta rintangan maupun rumitnya jalan yang bercabang serasa bunga-bunga kehidupan dan simponi keindahan alam. Dengan impian semua yang terlihat mustahil selalu bisa menjadi kenyataan.
Dalam sirkuit elektronik hanya ada empat jenis komponen dasar, yaitu : tahanan (Resistor), pembagi tegangan (Transistor), penyimpan muatan (Kapasitor), dan penyearah (Dioda).
Fungsi resistor adalah untuk membangkitkan tegangan, seperti fungsi bendungan yang menghambat aliran arus sungai. Jika arus sungai dibendung maka permukaan air sungai semakin lama akan semakin tinggi. Ketinggian inilah yang mampu menghasilkan energi yang sanggup menggerakkan turbin-turbin pembangkit listrik. Ketinggian air inilah yang dalam sirkuit elektronik disebut tegangan (V). Dalam analogi kehidupan, resistor adalah sebuah rintangan kehidupan. Seperti layaknya perjuangan hidup, dia tidaklah indah tanpa adanya suatu hambatan. Karena dengan adanya rintangan, diri kita akan semakin memiliki kekuatan. Karena dengan hambatan kita akan diuji dan akan meningkatkan kemampuan kita untuk berjuang. Resistor kehidupan juga berfungsi sebagai penahan, tahanan yang mampu untuk meredam kemarahan. Dengan tahanan kita mampu mengendalikan diri dari emosi-emosi yang menghancurkan.
Fungsi Kapasitor adalah untuk menyimpan muatan listrik sementara. Bersifat sementara karena kapasitor memiliki batas-batas kejenuhan. Kejenuhan kapasitansi ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan dielektrika untuk menyimpan sejumlah muatan. Sifat kapasitor ini adalah sesuatu yang alami, karena tidak ada makhluk alam ini yang memiliki kemampuan hingga tak terhingga kecuali kekuatan Tuhan. Semua makhluk alam pasti memiliki keterbatasan. Layaknya kapasitor, pikiran kita mampu menyimpan ilmu berdasarkan pengalaman hidup yang dialami. Muatan yang disimpan adalah ilmu pengetahuan , kapasitansinya adalah sebuah kecerdasan. Maka janganlah coba-coba untuk menguasai ilmu pengetahuan hanya untuk diri sendiri, karena jika tidak disalurkan lagi, maka pikiran kita akan menjadi jenuh. Jika kejenuhan sudah menguasai pikiran kita, maka ilmu baru tidak akan mudah untuk masuk. Jika kejenuhan terus menerus dipertahankan maka kapasitor kita akan mengalami kebocoran dan yang lebih parah lagi bisa terjadi eksplosi. Sedikit saja ada lonjakan arus yang masuk ke dalam rangkaian, maka kerja rangkaian akan meledak-ledak dan pada akhirnya dielektrika akan rusak dan kehilangan kemampuannya.
Fungsi Transistor adalah untuk membagi tegangan. Dia berfungsi untuk menentukan seberapa banyak arus yang harus didistribusikan di dalam sebuah rangkaian. Dalam kehidupan, transistor adalah kemampuan menganalisa dan tingkatan rasa keadilan. Hanya mereka yang mampu membaca keadaan, dan hanya mereka yang peka terhadap lingkunganlah yang sanggup memiliki rasa keadilan. Dengan kepekaan dan rasa keadilan, seseorang akan mampu memposisikan diri ditengah-tengah lingkungannya, dan mampu meletakkan orang lain berada dalam keseimbangannya.
Fungsi Dioda adalah untuk penyearah arus. Komponen ini hanya mampu mengalirkan arus dalam satu arah. Fungsi dioda dalam kehidupan adalah sebuah ketegasan dan kemampuan untuk menentukan sikap dalam mengambil keputusan. Jika suatu arah sudah ditetapkan maka dia akan konsekwen pada jalurnya, meskipun bermacam resiko akan dihadapinya. Dia adalah seperti lensa yang memberikan fokus kepada mata hati, agar mampu membawa perubahan sesuai target impian yang telah digantungkan.
Komponen-komponen lain dalam suatu rangkaian elektronik merupakan kombinasi fungsi dari dua atau lebih komponen-komponen dasar tersebut di atas. Seperti halnya kombinasi dari fungsi-fungsi Resistor (‘R) dan Kapasitor (‘C), mampu digunakan untuk memanipulasi variable waktu (RC), seperti pada rangkaian-rangkaian ‘timer’, ‘jam elektronik’, ‘generator frekwensi’ dan sebagainya. Contoh lainnya adalah kombinasi antara Resistor dan Dioda. Kombinasi ini dapat digunakan untuk menciptakan sebuah penyearah arus (Adaptor).
Demikian pula dalam kehidupan nyata. Perjuangan kita dalam menggapai impian, baru akan berhasil jika kita mampu meramu semua unsur-unsur perubahan menjadi sebuah kekuatan. Daya tahan, keuletan, atau kemampuan menahan diri, kecerdasan dan ilmu pengetahuan, kepekaan terhadap lingkungan dan fokus dalam mencapai tujuan serta komitmen, merupakan kunci sukses untuk dapat merubah sesuatu yang hampir mustahil menjadi sebuah kenyataan. Sebuah kekuatan untuk menjadikan impian tidak hanya sekedar angan-angan.
(Don’t stop your dreams….)
Waktu dan Air keduanya sama-sama mengalir. Berarti keduanya adalah hidup, karena tanda-tanda kehidupan adalah adanya perubahan.
Waktu adalah jiwa yang spontan, dia mengalir melampaui batas-batas keinginan.
Air merepresentasikan fleksibilitas, dia bergerak berdasarkan kemauan, dia mengalir karena adanya perbedaan.
Waktu hanya mengenal “sebelum” dan “sesudah”, tetapi dia tidak mampu berbalik arah.
Sedangkan air hanya mengenal “darimana” dan “kemana”, keberadaannya terperangkap dalam dimensi ruang. Setiap saat dimensi “darimana” bisa berubah menjadi “kemana”, begitu pula sebaliknya.
Waktu adalah simbol kepatuhan, dia terikat dalam aturan zaman. Sedangkan air adalah simbol kebebasan yang selalu mempunyai pilihan, bergantung kepada keadaan.
Kita tidak akan sanggup mendahului waktu, karena kita dan waktu berjalan beriringan. Tetapi kita masih bisa membendung air, karena air adalah sahabat kehidupan.
Kita mampu menekan air, tetapi hanya waktulah yang mampu menekan kita.
Waktu cenderung herisontal, dia berlari tiada henti, dari “awal” hingga mencapai “akhir”, tetapi air lebih bersifat vertikal, dia hanya mampu melompat dari “atas” ke “bawah”, dari “tinggi” ke “rendah”.
Air adalah visibel dan dia dicari banyak orang, sedangkan waktu invisibel , dia tidak terlihat dan sering terabaikan.
Waktu adalah ketegasan, dia penuh percaya diri dan maju terus tanpa gentar. Siapapun yang berusaha menghalanginya dia pasti akan dilibasnya.
Air adalah keuletan, jika ada yang menghadang, dia bisa saja berbelok arah, yang penting dia tetap mencapai tujuannya.
Waktu adalah sang predator, dia melahap usia tanpa ampun, tanpa belas kasihan dan peringatan. Siapapun yang tidak mempu berlari beriringan dengan waktu, dia akan ditinggalkan dalam penyesalan dan keadaan yang tersia-sia.
Air adalah sang pelindung, dia mampu merawat kehidupan agar selalu tetap ada. Karena tanpa kehidupan, dia tidak berguna. Karena tanpa kehidupan dia bukanlah apa-apa.
Bersahabatlah dengan air dan waktu, maka engkau akan mendapatkan semuanya.
Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar sebuah gedung peninggalan jaman penjajahan Belanda yang dikenal dengan nama “Lawang Sewu”. Gedung yang berada di kawasan Tugu Muda – Semarang ini adalah bekas kantor jawatan kereta api dan tempat penyiksaan para pribumi pada masa penjajahan dahulu. Gedung ini bahkan sempat dijadikan ajang uji nyali dalam sebuah acara stasiun televisi. Tetapi kita tidak akan membahas gedung “Lawang Sewu” ini dalam pengertian harfiahnya. “Lawang Sewu” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Pintu Seribu” ini akan kita pergunakan hanya sebagai analogi semata.
Pernahkah anda membayangkan seandainya anda terjebak dalam gedung yang memang memiliki seribu buah pintu, dan kebetulan anda juga sudah dibekali seribu buah anak kunci yang bisa dipergunakan masing-masing hanya untuk membuka satu pintu. Saat itu tiba-tiba anda berada dalam suatu ruangan yang mempunyai dua buah pintu, dimana pada pintu pertama adalah sebuah pintu yang menghubungkan antara ruangan dimana anda berada dengan ruangan lain atau menghubungkannya dengan sebuah tangga yang menuju lantai gedung di atasnya, dan sebuah pintu yang lain adalah pintu jebakan yang akan menyebabkan anda terperosok langsung ke dasar ruang-ruang bawah tanah. Apa yang akan anda lakukan ? Yang pertama anda harus lakukan adalah memilih pintu mana yang akan dibuka terlebih dahulu, lalu selanjutnya anda harus memilih satu dari seribu anak kunci untuk membuka pintu yang sudah anda pilih itu. Sungguh suatu kesulitan yang berlipat-lipat.
Jika memang anda beruntung, maka anda akan mendapatkan sebuah pintu yang mengarah masuk ke ruangan lain, tetapi jika nasib sial sedang berpihak kepada anda, maka anda akan terjerembab masuk ke lorong-lorong bawah tanah dan tamatlah riwayat anda. Tentu berdasarkan skenario, anda akan mendapatkan pintu yang menuju langsung ke ruangan lain, sebab jika tidak maka tulisan saya ini akan berhenti sampai disini. Singkat kata akhirnya anda menemukan anak kunci yang tepat, dan anda kembali berada dalam ruang lain yang juga memiliki jumlah pintu yang sama, yaitu dua buah seperti ruangan pertama. Anda harus memilih lagi pintu dan anak kunci dengan jumlah pilihan yang berkurang satu. Pada ruangan kedua ini, lagi-lagi anda kebetulan menemukan anak kunci yang tepat untuk pintu yang menuju sebuah tangga yang membawa anda ke lantai berikutnya.
Sekarang, anda sudah berada pada ruangan yang terletak satu tingkat lebih tinggi dibanding ruangan sebelumnya. Lalu berkali-kali lagi anda kembali diuji dengan harus memilih satu di antara tumpukan anak kunci yang masih tersisa, dan semakin banyak pintu yang berhasil anda buka, maka semakin berkurang jumlah anak kunci yang harus dipilih. Hingga akhirnya, pada suatu ruangan, karena anda sudah terlalu lelah, maka konsentrasi anda juga mulai berkurang, dan akhirnya anda membuka pintu yang salah. Andapun terperosok, dan karena anda sudah berada pada lantai yang sangat tinggi, ketika anda terjatuh, anda langsung meregang nyawa. Lalu apa maksud dari cerita ini, kenapa tidak happy ending ? Sabar! Cernak cerita di atas perlahan-lahan, kemudian coba anda analogikan dengan paragraf berikut ini..
Ketika anda dilahirkan, maka anda mau tidak mau seakan terperangkap dalam suatu dunia yang memiliki beribu-ribu pilihan. Tuhan memberikan kita hidup sebagai manusia disertai dengan bermacam-macam kesempatan. Kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk boleh memilih apakah jalan kebaikan atau keburukan yang akan kita lakoni. Seperti halnya seorang bayi, ia dilahirkan layaknya kertas putih yang kosong yang masih memiliki banyak ruang untuk bisa ditulis, masih memiliki banyak kesempatan untuk bisa diraih. Semakin bertambah usia kita, maka akan semakin sedikit pilihan yang tersedia.
Setiap tahapan memilih adalah sebuah ujian kehidupan. Jika kita mampu melaluinya maka kita akan berada setingkat lebih tinggi dari kehidupan semula. Setiap tahun berlalu, anda diibaratkan seperti sedang membuka sebuah pintu untuk menuju ke ruangan lain yang masih bersih dan baru. Ruangan di mana di dindingnya nanti akan kita pasang lukisan-lukisan terbaru, yang berasal dari episode-episode hidup yang akan kita lalui selama setahun ke depan. Hingga pada saat penghujung usia, maka kita pun menutup riwayat hidup kita. Kita harus meninggalkan buku yang akan menjadi sejarah dan mulai menjalani buku baru dimana tidak satupun halamannya kosong.
Ibarat sebuah situs web, buku baru itu bersifat “read only”, dia hanya berisi “log” dari aktifitas kita yang telah kita torehkan pada buku sebelumnya dan “link-link” yang akan memutar ulang setiap peristiwa . Jika anda menciptakan mozaik yang patriotik pada buku sebelumnya maka anda akan mendapatkan tampilan WEBSITE yang istimewa, tetapi jika mozaik yang anda ciptakan adalah sebuah petualangan hina, maka tampilan WEBSITE anda akan seperti monster buruk rupa dan menakutkan, dan anda akhirnya hanya bisa menyesali semua kejadian yang telah dilalui.
Penyesalan memang ditakdirkan untuk datang belakangan. Ingatkah anda bahwa dalam setiap ruangan tersedia dua buah pintu, pintu menuju kehidupan yang lebih baik dan pintu kematian. Artinya bahwa kita bisa melakukan kesalahan memilih pintu kapanpun , bisa saat berada dilantai satu, dua, atau berapapun. Begitu juga dalam kehidupan, Tuhan bisa memanggil kita kapan saja, dimana saja, bisa pada saat masih kecil, remaja, dewasa, atau setelah tua. Oleh sebab itu, mengapa kita harus menunggu renta untuk mau bertobat. Lakukan kebaikan mulai saat ini, mulai dari diri sendiri, karena setiap kebaikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain. Ingatlah bahwa jika anda sudah terperosok ke dalam lorong-lorong bawah tanah, ribuan anak kunci yang kita bawa, semuanya sudah tidak berguna lagi.
(Renungan diri untuk mencari hakekat)
Ada sedikit perbedaan antara pengertian "Mimpi" dan "Impian". Meskipun dalam bahasa inggris keduanya disebutkan dalam kata yang sama yaitu "Dream". Mimpi sering disebut sebagai bunga tidur, yang menurut para ahli psikologi merupakan suatu visualisasi dari keinginan-keinginan alam bawah sadar kita, sedangkan impian bermakna lebih visioner, lebih memiliki pandangan kedepan atas keinginan yang ingin kita capai. Pengertian impian justru lebih dekat dengan istilah "cita-cita", meskipun sebagian orang menganggap bahwa impian tidaklah lebih realistis dibandingkan dengan cita-cita.
"Adik kalau besar ingin jadi apa ?" pertanyaan tersebut dulu pernah ditanyakan oleh bapak-ibu saya untuk menanamkan motivasi dan memberikan nasehat agar saya tidak malas belajar, dan selalu menjadi anak yang baik. "Aku ingin jadi insinyur !" jawaban yang aku lontarkan dengan cepat, meskipun sebenarnya saya sendiri belum mengerti apakah insinyur itu. Sejak kelas 3 SD, saya mulai mengenal pahlawan dalam pelajaran sejarah. Saat itu saya begitu kagum dengan perjuangan Pahlawan Yos Sudarso yang dengan gagah berani bertempur melawan Belanda di perairan Arafuru. Maka dengan serta merta cita-cita saya menjadi berubah, "Aku ingin menjadi seorang Nahkoda Kapal", begitu jawaban saya ketika pertanyaan di atas berulang kali dilontarkan kembali oleh kedua orang tua saya.
Setelah saya menginjak bangku SMP, pertanyaan tersebut sudah mulai jarang ditanyakan oleh kedua orang tua saya, bahkan mungkin sudah tidak pernah lagi ditanyakan. Tetapi dalam benak remaja saya, cita-cita saya sudah mulai berubah kembali. Pada masa itu, masa orde lama, sosok bapak Ir. Habibie begitu populer di mata saya. Beliau adalah orang yang sangat luar biasa, karena pada saat itu, beliau mampu merintis sebuah industri dirgantara yang hebat dan sarat dengan teknologi canggih, setidaknya begitulah yang saya pikirkan pada saat itu. "Saya ingin bekerja di PT Nurtanio, jika saya lulus kuliah nanti". Begitulah impian saya pada saat itu. Sejak saat itu, entah karena kebetulan atau tidak, pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam merupakan pelajaran yang paling saya sukai di sekolah.
Saya juga begitu kagum dan terheran-heran dengan sebuah Radio 2 ban milik om saya. Sehingga pada suatu waktu, dengan diam-diam radio itu saya bongkar hanya karena ingin melihat isinya. Tetapi malangnya, karena ilmu elektronik belum banyak yang saya ketahui, maka saya tidak ingat lagi bagaimana cara memasangnya kembali. Al-hasil "Terima bongkar - tidak terima pasang", begitulah kondisi radio 2 ban milik om saya. Nasibnya sangat mengenaskan, tercerai-berai tidak karuan lagi bentuknya. Beruntung om saya saat itu sekolah di STM, di kota kecamatan, jadi radionya masih dapat diselamatkan. Sejak saat itu saya begitu menyukai pelajaran ketrampilan, terutama pada saat ketrampilan elektronika. Saya mencoba menyisihkan sebagian uang jajan saya untuk membeli sebuah solder, sebuah multi tester, dan beberapa kit proyek elektronika sederhana. Semuanya saya coba untuk saya rakit sebisanya, tetapi malangnya lebih banyak proyek yang gagal dari pada yang berhasil. Saya sempat putus asa dan pada saat mulai masuk SMA, saya mempunyai impian "Saya harus bisa kuliah di ITB jurusan Elektronika" supaya saya bisa memahami, mengapa proyek-proyek saya banyak yang gagal.
Seiring berjalannya waktu, saya sudah mulai jarang membuat proyek-proyek baru, kegiatan saya mulai beralih pada aktifitas organisasi di sekolah dan di luar sekolah. Saya sempat mencoba mencalonkan diri menjadi ketua OSIS semasa di SMA, tetapi gagal, dan hanya menduduki posisi sekertaris karena kalah suara. Sampailah pada suatu saat aku mengikuti UMPTN untuk memasuki Institut Teknologi Bandung. Tetapi sayangnya Bapak saya menyarankan agar saya memilih Jurusan Kimia atau Teknik Kimia, beliau meyakinkan saya, bahwa Elektronika itu nanti bisa dipelajari dari buku-buku atau jika perlu nanti ikut kursus montir radio atau televisi untuk bisa mengerti elektronika. Tetapi Jurusan Teknik Kimia itu sangat susah dan langka, begitulah menurut pandangan bapak saya. "Lihat itu, para insinyur teknik kimia di tempat Pakde kamu bekerja, PT PUPUK KUJANG, mereka hidupnya enak-enak, dan mempunyai jabatan yang mapan..!". Pakde saya memang bekerja di PT PUPUK KUJANG, dan karena latar belakang beliau bukanlah seorang insinyur, maka jabatan tertinggi Pakde saya pada saat itu adalah seorang " Kepala Gudang Spare-Part ". Meskipun demikian, pakde saya menerima fasilitas rumah dinas, mobil dinas, dan bermacam-macam fasilitas lainnya dari perusahaan.
Akhirnya, saya memenuhi permintaan Bapak saya dan memilih Jurusan Teknik Kimia di ITB, dan Alhamdulillah saya diterima. Memang sedikit banyak pendapat bapak saya ada benarnya, bahwa Jurusan Teknik Kimia itu jurusan yang langka dan sangat susah, tidak semua Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia ini memiliki Jurusan Teknik Kimia. Entah merupakan suatu kesialan atau justru keburuntungan, di jurusan ini, saya bertemu dengan puluhan anak-anak super di sekolahnya. Mereka begitu superior di setiap mata kuliah. Saya yang masuk dengan separuh hati dan berasal dari sekolah daerah yang tidak sepopuler sekolah mereka, harus bersaing mati-matian untuk tetap bisa lulus dalam semua mata kuliah. "Di atas langit masih ada langit" begitulah mungkin ungkapan yang tepat, artinya bahwa saya yang Lulus SMA dengan Nilai NEM(Nilai Ebtanas Murni) termasuk dalam jajaran tiga besar di sekolah, di Jurusan ini, masih belum apa-apanya. Banyak di antara teman-teman saya mempunyai nilai rata-rata NEM hampir sempurna "sembilan koma lima". Beruntung, meskipun dengan nilai yang pas-pasan, saya termasuk mahasiswa dalam satu angkatan yang berkesempatan ikut wisuda dalam tahap pertama berbarengan dengan dua orang yang lulus dengan predikat "Cum Laude". Memang ada juga satu orang yang sudah ikut di Wisuda lebih dahulu bersamaan dengan wisuda kakak angkatan, bahkan dengan predikat "suma cum laude".
Setelah lulus dan diWisuda, saya mencoba melamar di beberapa perusahaan Kimia besar termasuk di PT. PUPUK KUJANG tempat pakde saya bekerja. Semuanya gagal, karena nilai Indeks Presatasi dan bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Sampai akhirnya saya di terima kerja di sebuah perusahaan kecil di daerah, dan secara kebetulan pula perusahaan yang menerima saya tersebut justru adalah sebuah perusahaan Elektronik, dan seterusnya hingga sekarang saya sudah bekerja di beberapa perusahaan yang semuanya adalah perusahaan Industri Elektronika.
Kisah tersebut di atas adalah kisah nyata, dimana secara sadar atau tidak, saya selalu tidak bisa benar-benar lepas dari dunia yang saya impikan sejak semasa SMP dulu. Begitu kuatnya energi impian, sehingga meskipun tanpa Plan A maupun Plan B, apa yang menjadi impian semasa kecil tanpa disadari bisa menjadi kenyataan, meskipun dengan cara-cara yang mungkin tidak diperkirakan.
Jika saja keinginan semasa SMP tersebut bukan hanya sekedar "impian", tetapi benar-benar merupakan sebuah "cita-cita". Maka cita-cita itu akan dapat direncanakan dengan matang, ada Plan A dan ada Plan B. Semua energi akan difokuskan, sehingga setiap tahapan pencapaian, mempunyai landasan yang mantap dan terarah. Kita tinggal menunggu waktu dan saat yang tepat dimana sebuah cita-cita menjadi sebuah kenyataan.
Selama kita masih bisa bernafas dan diberi kesempatan oleh Tuhan, berarti kita masih bisa berharap mempunyai impian. Tidak ada kata terlambat untuk terus memperjuangkan cita-cita, keberhasilan hanyalah masalah waktu pencapaian. Apa yang kita capai saat ini bukanlah suatu kegagalan, tetapi hanyalah keberhasilan yang tertunda. Tuhan menunda keberhasilan kita bukan tanpa tujuan, tetapi Tuhan menilai bahwa saat ini memang kita belum siap menerima keberhasilan.
Empat orang sahabat Maman, Rizky, Fikri, dan Teguh senang berdiskusi membahas berbagai macam masalah, baik yang sedang marak dibicarakan orang maupun materi yang hanya kalangan mereka sendiri yang tahu. Mereka adalah kelompok diskusi perhimpunan cacat netra. Mereka melakukan pertemuan rutin di sebuah ruang tamu sebuah yayasan cacat netra, tempat mereka biasa bersosialisasi dengan rekan-rekan senasibnya. Minggu lalu mereka mencoba membahas mengenai terpilihnya Obama menjadi presiden Amerika Serikat. Mereka begitu bangga, bahwa ada seorang yang pernah sekolah dan tinggal di Indonesia, ternyata bisa menjadi pemimpin dunia. Namun kali ini mereka membicarakan topik yang jauh lebih ringan, akan tetapi selalu membuat penasaran fikiran mereka selama ini. Topik bahasannya adalah mengenai seekor gajah. Keempat anggota majelis diskusi itu kebetulan sudah menyandang cacat sejak mereka di lahirkan, maka sudah barang tentu mereka belum pernah melihat bentuk gajah yang sebenarnya sebelumnya.
Fikri, sesuai namanya dia adalah seorang pemikir, banyak ide-ide yang diusulkan, dan memang selama ini banyak pokok-pokok bahasan diskusi berasal dari idenya. Kali ini dia membuka pembicaraan : " Hai pren..kalian tahu tidak binatang yang disebut gajah ? ". " Alah gajah wae te ngarti....", Maman yang memang pribumi sunda asli menimpali dengan semangat dan sedikit agak sombong. " Gajah teh bentuknya kaya ular phiton tetapi suka menyemburkan air" Maman melanjutkannya dengan yakin dan percaya diri. Maman teringat dulu waktu dia berusia 12 tahun SLB tempatnya belajar pernah mengadakan Study Tour di sebuah kebun binatang di Bandung. Waktu itu dia berkesempatan memegang belalai seekor gajah, yang kebetulan saat itu habis minum di kolam kandangnya. Gajah itu menyemburkan air bekas minumnya ke arah Maman, sehingga maman basah kuyup. Waktu itu Maman masih kecil, maka dia menangis sejadi-jadinya dan butuh 3-4 orang guru pembimbing untuk membujuknya. "Salah ! gajah itu seperti kipas " kali ini si Teguh menyela dengan suara keras, membuat teman-temannya yang lain kaget dan Rizky yang sejak tadi mengantuk, hampir saja terjatuh dari tempat duduknya. " Uh ! kamu guh..nggak usah sambil teriak bisa nggak sih?.. udah keras salah lagi..". "Tenang Men.. slow down..santai-santai, kita ini sedang berdiskusi bukan bertengkar", Fikri yang merasa bertanggung jawab membuka pembicaraan berusaha menengahi teman-temannya yang wataknya memang sedikit agak keras. Apalagi si Teguh, benar-benar teguh pendiriannya... dia akan selalu berjuang mempertahankan pendapatnya sampai titik darah penghabisan.. tetapi dia akan dengan jiwa besar menerima pendapat orang lain jika memang argumentasinya sudah habis. "Kamu kok berani menyalahkan Teguh, memang kamu sudah pernah memegang gajah? ", kata Fikri melanjutkan. "Sudah dong!, Gajah itu bulat tinggi berdiri tegak seperti batang pohon kelapa ", "Kulitnya berkerut-kerut tetapi keras". Kebetulan Rizky memang berasal dari daerah pesisir, dimana dikampungnya banyak terhampar perkebunan kelapa. Teguh dan Rizky memang keduanya tidak salah. Teguh pernah memegang telinga gajah dan Rizky pernah memegang kaki gajah pada suatu pertunjukan sirkus yang kebetulan singgah di kampungnya. Fikri sang pemikir menjadi semakin penasaran, kenapa semua temannya mempunyai gambaran yang berbeda mengenai gajah, bahkan semuanya bertentangan dengan pengalaman yang pernah dia rasakan sendiri. " Kalau menurut saya, Gajah itu seperti belut atau ular sawah, bentuknya bulat, kecil dan panjang, tetapi baunya seperti kotoran hewan". " kenapa ya? pendapat kita berempat kok berbeda-beda? pasti ada yang tidak beres... mungkin kita hanya memegang dan meraba sebagian tubuh dari gajah ". Fikri berdiam sebentar, dia memutar otaknya dengan kencang, begitu pula dengan teman-temannya yang lain, mereka sedikit-demi sedikit mulai meragukan pendapatnya sendiri. Bahkan Teguh yang biasanya berpendirian sangat keras, kali ini dia bergumam, "Oh iya..ya..".
Kemudian mereka berempat mulai menggabung-gabungkan semua informasi yang mereka miliki masing-masing, sampai suatu kesimpulan bahwa : "Oh berarti ..yang abdi pegang itu teh Belalainya... pantes waktu itu aku dibuat basah kuyup" Maman mulai mengevaluasi pendapatnya. Teguh tidak mau kalah menimpali, "Kalau begitu, mungkin yang aku raba saat itu telinganya.. berarti telinganya lebar sekali..ya." , teguh berusaha membuat kesimpulannya sendiri . "Wah Kalau Telinganya saja sebegitu lebar, dan kakinya yang dipegang oleh rizky sebesar pohon kelapa, berarti tubuhnya pasti jauh lebih besar lagi. Dan mungkin yang aku pegang dulu itu ekornya..pantes baunya nggak enak."
Begitulah setiap saat suasana diskusi mereka, meskipun diawali dengan saling mengejek dan perdebatan yang sengit, tetapi mereka seolah sudah saling mengerti. Untuk lebih meyakinkan lagi mereka kemudian memutuskan untuk menguji kesimpulan mereka dengan bertanya langsung kepada bapak Tarsiman, salah seorang guru pembimbing dan kebetulan saat ini menjadi pengurus harian Yayasan Tuna netra tersebut.
Mereka, keempat sahabat itu adalah pribadi-pribadi yang selalu terbuka. Mereka tidak saling menyombongkan diri satu sama lain. Sehingga pengetahuan dengan mudah mengalir secara alami ke dalam diri mereka. Mereke terus beranalogi dan saling berbagi informasi untuk mendapatkan sebuah gambaran yang sempurna dari sebuah fakta. Sehingga mereka mendapatkan sebuah hakekat, hakekat dari seekor gajah.
(episode : Makna sebuah Hakekat )
" Don't look the book from the cover ". Suatu ungkapan yang sering disampaikan seseorang untuk mengingatkan kita agar selalu berusaha mencari sebuah hakekat dari suatu peristiwa. Kita kadangkala hanya terperangkap dalam sebuah pesona, sehingga tidak mampu untuk menyikapi sebuah fakta secara benar dan tepat. Setiap fakta selalu tersusun atas unsur yang terlihat dan yang tidak terlihat. Hakekat dari sebuah fakta adalah memaknai suatu peristiwa dengan memperhatikan unsur terlihat dan unsur tak terlihat secara simultan, sehingga kita bisa benar-benar memahami sebuah fakta sebagai sebuah paket bukan berupa pecahan dari tiap-tiap unsurnya.
Saya jadi teringat sebuah cerita yang mengisahkan seorang penggembala kambing yang sedang beristirahat di bawah pohon cemara. Tiba-tiba saja jatuh sebuah bunga cemara yang kering tepat dihadapannya. Penggembala itu kaget, tetapi dia mengambil bunga cemara itu dan memandanginya dengan penuh minat. Perutnya yang lapar membujuk dia untuk berfikiran macam-macam. Dia membayangkan seaindainya Tuhan menciptakan bunga cemara itu berukuran besar seperti buah durian maka saat itu dia sedang membelahnya dan menikmati kelezatannya. Kenapa Tuhan tidak adil ? kenapa bunga cemara diciptakan seperti itu ? sudah kering, tidak harum dan tidak menarik pula rupanya. Di tengah-tengah si penggembala merenungi nasibnya dan berfikiran negatif tentang Tuhan, tiba-tiba saja jatuh bunga cemara yang lain tepat di kepalanya, dia melonjak kaget dan lebih kaget dari yang pertama tadi. Serta merta dia bersujud mencium tanah seraya berucap "Terima kasih Tuhan, Ampunilah saya....Ampuni saya ya Tuhan..maafkanlah saya yang telah berfikiran buruk tentang kebesaranMU". Dia membayangkan bagaimana jika bunga cemara itu benar-benar seperti durian, sudah menjadi apa bentuk kepalanya.
Dalam hitungan detik sikap seseorang bisa berubah 180 derajat dari menginginkannya menjadi membencinya, dari jahat menjadi baik dan sebagainya. Itu akibat dari kita yang belum menemukan hakekat dari sebuah fakta tetapi sudah menarik kesimpulan, kadang kala sangat begitu yakin dengan kesimpulannya itu dan semua pendapat yang tidak sesuai dengan kesimpulannya itu adalah salah. "Everything is possible" .. semua hal itu memungkinkan. Seperti penggembala tadi yang dia sangat terpesona dengan kamahsyuran buah durian, sehingga mermehkan bunga cemara dan yang lebih parah lagi bahkan meragukan kebesaran Tuhan.
Mari kita berusahalah mencari hakekat, bukan hanya sekedar fakta yang terlihat. Butuh ketekunan dan banyak latihan agar kita dapat menemukan suatu hakekat secara cepat.